Tampilkan postingan dengan label Tanaman khas kalsel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman khas kalsel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

Buah Kalangkala (Litsea garciae)

Buah Kalangkala (Litsea garciae) saat ini sudah sangat sulit dijumpai, selain tanaman ini jarang di budidayakan juga kurangnya pengetahuan terutama generasi muda sehingga untuk daerah perkotaan Kalangkala boleh dibilang termasuk buah langka.
Nama ilmiah kalangkala
Buah Kalangkala

Kalangkala (Litsea garciae) termasuk salah satu tanaman khas Kalimantan, sering ditemukan tumbuh liar dan penyebarannya dibantu oleh hewan yang juga menyukai buah ini. Selain musang dan monyet serta burung enggang banyak pula hewan lain yang suka menyantap buah ini dan secara tak sengaja turut membantu penyebaran tanaman ini.

Buah Kalangkala bukan tipe buah meja atau buah yang biasa disantap untuk pencuci mulut seperti pisang, ketapi atau Kapul melainkan disantap sebagai pelengkap nasi seperti halnya ikan. Untuk menikmati buah ini caranya adalah dengan mencuci bersih buah tersebut kemudian di rendam di dalam air hangat (sekitar 70-80 derajat celcius) selama kurang lebih 1 jam jangan lupa di bubuhi garam secukupnya, barulah siap untuk dinikmati. Masyarakat Banjar kerap menikmatinya dengan sambal terasi dan ikan teri asin.

Secara umum Tanaman Kalangkala tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 10 – 20 m. Percabangan jarang tidak terlalu rapat. Daun tunggal, besar, bentuk memanjang. Buah berbentuk bulat, kulit buah lunak, separoh buah ditutup oleh kelopak buah yang keras berwarna hijau. Kulit buah muda hijau, berangsur- angsur merah kalau matang. Daging buah lunak, berwarna putih. Biji berbentuk bundar, keras berwarna coklat.
Baca SelengkapnyaBuah Kalangkala (Litsea garciae)
mjumani, Updated at: Desember 23, 2012

Senin, 12 Desember 2011

Buah-Buahan Khas Kalsel

Baru beberapa hari kemaren saya bersama teman berkesempatan jalan-jalan ke bumi Murakata Barabai, sebenarnya ini tentu saja bukan kali pertama ke salah satu kota yang ada di kabupaten Hulu Sungai Tengah ini, hanya saja yang terasa sedikit berbeda adalah kali kesekian ini kami datang di saat "musim" buah. Tak ayal lagi kesempatan ini tidak di lewatkan secara percuma.



Wew seger..
Bay the way sebenarnya buah-buahan khas kalsel sendiri masih banyak yang belum saya kenal apalagi yang sempat dicicipi padahal kalsel adalah tempat kelahiran sekaligus tinggal hingga hari ini. Hanya beberapa buah yang masih cukup sering di jumpai seperti buah Kasturi, buah Ramania, dan ketapi, kweni, dan Hambawang (Mangifera foetida) yang cukup familiar, beberap buah lokal lainnya seperti Pampakin, Mundar, Kapul, Gitaan, Mantuala, Ketapi Suntul (Sandoricum koetjape Merr), Binjai (Mangifera kemanga), Kalangkala, dll sangat jarang di jumpai bahkan ada yang belum pernah saya jumpai sama sekali.
Selama di perjalanan saya lebih sering jadi Fotografer ketimbang di Foto


Buah-buahan khas kalsel maupun buah-buahan lain yang kemaren sempat di nikmati antara lain Durian, Langsat, Cempedak, Manggis, Rambutan, Salak, Nenas, Kasturi, Tarap, dan Ramania. Rasanya bervariasi, mulai dari manis, asem hingga asem manit, ada juga yang rada sepet yang pasti punya khas tersendiri di lidah.

Anggrek Aerides dan Dendrobium 
Sebelum pulang kamaren sempat juga mampir di salah satu objek wisata disana, yaitu objek wisata Pagat- Barabai. Hmm tempatnya sih lumayan sayangnya selain masih banyak sampah yang berserakan, juga banyak coret-coretatan hasil kreasi vandalis yang mengurangi keindahan. Oh ya satu lagi, disana juga terkesan terlalu banyak pungutan, misalnya mau nyebrang jembatan bambu harus bayar, pulangnya lewat jembatan gantung eh bayar lagi, hehe.. tapi tak apalah... Ups ketinggalan, disana juga lumayan banyak liat anggrek-anggrek spesies yang di tanam warga di pekarangan, hmm sayang kemaren gak sempat jalan-jalan ke hutan buat nengok anggrek-anggrek disana ya mudahan lain kali bisa kesana lagi horeee..



Baca Juga : Tips Kesehatan Rambut | Furchange | Kalung Anti Radiasi Furchange Indonesia
Baca SelengkapnyaBuah-Buahan Khas Kalsel
mjumani, Updated at: Desember 12, 2011

Rabu, 22 Juli 2009

Hutan Rawa di Handil Bakti Semakin Terancam

Hutan Rawa di Handil Bakti Semakin Terancam

Sedikit cerita tentang desa ku, hmm.. meski gak terkenal aku senang bisa tinggal di Desa yang kini sudah mulai mengalami perubahan akibat imbas dari perkotaan. Desa yang ku tinggali bernama Handil Bakti, sebuah desa yang termasuk wilayah kecamatan Alalak dan masih dalam wilayah Kabupaten Barito Kuala. Meski termasuk wilayah Kabupaten Barito Kuala, masyarakat di Desa Handil Bakti lebih cenderung bergantung dengan Kota Banjarmasin karena memang aksesnya jauh lebih dekat ketimbang ke ibu kota kabupaten yaitu marabahan. Desa berpenduduk lebih dari 4 ribu jiwa ini berbatasan langsung dengan Kotamadya Banjarmasin di bagian selatan, ke arah utara ada Desa Mandastana, sedangkan di sebelah timur ada Desa Semangat Dalam dan di barat berbatasan dengan Desa Berangas Timur dan Desa Tatah Mesjid.

Perkembangan desa dalam beberapa tahun ini cukup pesat, Desa Handil Bakti berpenghuni lebih dari 4 ribu dengan mata pencaharian penduduk antara lain sebagai petani, pedagang, buruh dan menjadi pegawai baik negri maupun swasta. Semakin banyaknya komplek-komplek perumahan yang didirikan mengindikasikan bahwa desa ini setiap tahunnya selalu kedatangan pendatang dari berbagai daerah.

Namun imbas dari perkotaan tidaklah semuanya berdampak baik, meski sarana umum dan sarana penunjang semakin lengkap ada masalah-masalah perkotaan yang kini juga muncul di desa ini, sebagai contoh adalah sampah. Tidak adanya TPS untuk menampung sampah/limbah rumah tangga membuat warga yang kurang peduli menentukan sendiri daerah untuk membuang sampah misalnya di pinggir jalan raya. Ini tentu sangat di sayangkan.Saat tempat pembuangan ilegal itu di tutup oleh pemiliki area tanah, akhirnya dibuka lagi tempat penumpukan sampah baru yang ujung-ujungnya semakin nampak kurang pedulinya masalah kebersihan lingkungan.

Tidak hanya masalah sampah, banyaknya pendatang baru dimanfaatkan betul oleh infestor untuk mendirikan komplek-komplek perumahan baru dengan mengkonversi hutan-hutan rawa yang ada. Tak di sangkal, hutan rwa di Desa Handil Bakti ini kian menyempit. Menyempitnya hutan rawa ini tentu berdampak pada daerah ini secara tidak di sadari. Walaupun begitu setiap tahun komplek perumahan baru semakin bertambah.

Desa Handil Bakti memiliki areal hutan sekitar 198 ha dan jumlah ini terus berkurang selain karena konversi menjadi lahan pertanian taupun pemukiman, berkurangnya areal hutan karena banyak aktifitas warga yang menebang hutan yang kayunya digunakan untuk kayu bakar dan pondasi bangunan.

Akses ke kota yang semakin mudah membuat para pencari kayu di hutan rawa yang di dominasi oleh Galam (Malaleuca cajuputi) ini semakin bersemangat, truk-truk pengangkut kayu Galam ini terlihat melintasi jalan raya tran Kalsel-teng menuju Banjarmasin. Kayu-kayu itu ada yang berdiameter besar maupaun berdiamater kecil. Dahulu Galam dengan diameter lebih dari 30 meter masih banyak di jumpai di hutan-hutan rawa, namun kini sudah sangat sulit ditemui, selain karera tidak adanya larangan untuk menebang kayu, semakin sulitnya mencarai kayu gelondongan menjadikan sebagian pengusaha kayu menjadikan Galam sebagai alternatif pengganti untuk membuat papan selain menggunakan batang kelapa.

Kesemua aktifitas, baik itu konversi lahan rawa untuk pemukiman, penebangan kayu Galam untuk berbagai keperluan dan pembukaan areal pertanian tentu akan menggaggu ekosistem rawa itu sendiri. Beberapa spesies tumbuhan mungkin saja makin terdesak, sebagai contoh adalah area hutan rawa yang dulu pernah saya jadikan tempat bermain sewaktu kecil yang cukup banyak di jumpai buah khas daerah rawa misalnya pelipisan, rawa-rawa, balangkasuwa dan ketapi kini sudah tidak ada lagi. Pohon-pohon itu ditebang dan telah di uruk dengan tanah merah dan diatasnya berdiri rumah-rumah yang letaknya diatur sedemikian rupa.

Hutan rawa sebenarnya memiliki banyak keunikan dan tentunya memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Mau tau serunya pengalaman saya sewaktu kecil di hutan rawa ? baca Keunikan hutan rawa...

Baca SelengkapnyaHutan Rawa di Handil Bakti Semakin Terancam
mjumani, Updated at: Juli 22, 2009

Rabu, 08 Juli 2009

Tumbuhan langka

TANAMAN RAWA KALIMANTAN SELATAN

Kembali saya mencoba memuat artikel tentang tanaman khususnya tanaman rawa, yang sebagian besar keberadaannya semakin sulit ditemukan. Lingkungan rawa memiliki pengaruh terhadap flora yang ada, sehingga lingkungan rawa memiliki flora yang khas dibandingkan daerah lainnya. Kalimantan adalah salah satu daerah yang memiliki lahan rawa cukup luas, termasuk Kalimantan Selatan.

Banyak tanaman khas rawa yang tumbuh secara alami tanpa di budidayakan seiring perkembangan waktu mulai hilang oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan pertanian, perkebunan, pemukiman maupun ekplorasi. Dengan adanya informasi mengenai potensi tanaman-tanaman tersebut diharapkan akan dapat membantu mencegahnya dari kepunahan. Sebagian tanaman yang disebutkan dibawah ini adalah tanaman khas Kal-Sel yang semakin rawan keberadaanya.

DURIAN

a. Determinasi.

Durian tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Kelas Dicotyledoneae, Ordo Bombacales, Famili Bombacaceae, Genus durio dan Spisies Durio zibethinus L, Jumlah kromosom 56.

b. Morfologi.

Tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 10-30 m. Percabangan cukup banyak. Daun tunggal ( folium simplex), bertulang daun menyirip, bertangkai, memanjang (oblungos), pangkal daun membulat (obtusus) dengan ujung meruncing (acuminatus). Mahkota bunga berwarna putih kuning, dengan benangsari yang banyak. Buah berbentuk bundar atau agak lonjong, tertutup rapat oleh duri tempel. Buah membuka mulai dari ujung, dengan 5 sampai 6 katup. Daging buah berwarna putih hingga putih kekuningan, berbau tajam. Biji berwarna coklat muda, bersifat rekalsitran. Dalam 100 gram daging buah mengandung 60 gram air, 28,3 gram karbohidrat, 2,5 gram protein, 2,5 gram lemak, 60,1 mg kalium, 20 mg kalsium, 57 mg vitamin C, tiamin dan riboflavi masing-masing hanya di bawah 1 mg.

c. Kerabat-Kerabat durian

Papaken (Durio kutujensis) Papaken yang mempunyai nama lain yaitu lai, tergolong durian yang berumur genjah, pada umur 5 tahun kerabat durian ini sudah mulai berbuah. Pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi. Buah berbentuk bulat, berwarna hijau sampai hijau kekuningan. Kulit buah yang masak berduri agak lunak dan mudah dibelah. Rasa daging buahnya manis dan empuk, berwarna kuning emas dan beraroma kurang menyengat, kurang alkoholik. Biji berwarna kuning kecoklat-coklatan. Karena populasinya dialam sudah berkurang, tanaman ini tergolong dari 40 jenis tumbuhan langka di Indonesia yang harus dilindungi, yang termasuk katagori rawan.

Mantuala (Durio, sp).

campuran, berumah satu. Buah tergolong buah buni, berbentuk buat sampai bulat memanjang, daging buah berwana kuning muda sampai jingga, ada yang berserabut dan tidak. Biji batu berdinding tebal. Kerabat durian ini dicirikan dengan adanya lekukan pada tiap sekat (katup) buahnya. Daging buah berwarna jingga, tebal, manis, beraroma kurang menyengat, kurang alkoholik, berbiji coklat. Buah yang muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning muda kalau sudah masak.

HAMPALAM

a.Determinasi

Hampalam tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Kelas Dicotyledoneae, Ordo Anacardiales, Famili Anacardiaceae, Genus mangifera dan Spesies Mangifera indica L.

b. Morfologi

Tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi dapat mencapai 30 m. Percabangan cukup banyak. Daun tunggal ( folium simplex), bertangkai, menyirip, bentuk memanjang, dengan ujung meruncing. Benang sari banyak, dalam 5 berkas berbentuk kipas, kepala sari beruang 1, membengkok. Tangkai putik tebal. Bunga berkelamin campuran, berumah satu. Buah tergolong buah buni, berbentuk buat sampai bulat memanjang, daging buah berwana kuning muda sampai jingga, ada yang berserabut dan tidak. Biji batu berdinding tebal.

c. Kerabat-kerabat Mangefera

Hampalam mangga( Mangifera indica L). Bentuk buah bulat memanjang dengan kulit buah berwarna hijau. Daging buah agak berserabut, warna jingga, manis, tidak berserabut. Berat buah berkisar antara 200-400 gram. Hampalam palipisan (Mangifera sp) Buah berbentuk bulat memanjang, dengan ukuran buah agak kecil, berat buah berkisar antara 100-125 gram. Daging buah berwarna kuning kehijauan, manis, tidak berserabut

Kuwini (Mangifera odorata).

Kelompok mangefera jenis ini dicirikan dengan aromanya yang menusuk. Buah berbentuk bulat memanjang, berukuran agak besar, berat/buah dapat mencapai 400 gram. Daging buah berwarna kuning, manis dan agak berserat. Kulit buah berwarna hijau,buah yang masak dicirikan dengan daging buahnya yang lunak dan aromanya yang menusuk.

Kuweni Anjir, adalah salah satu jenis kuwini yang khas, dengan rasa yang manis, dapat beradaptasi di lahan rawa pasang surut, lebih tahan terhadap penggerek buah.

Hambawang (Mangifera foetida)

Kelompok dari magifera ini dicirikan dengan kulit buahnya yang tebal, dan mengandung getah. Kulit buah berwarna hijau kekuningan, berbintik hitam dan kadang ditemui getah hitam yang mengering dikulit. Daging buah berwarna kuning, dengan rasa dari masam sampai manis, daging buah berserat. Jenis hambawang lainnya adalah hambawang putar yang dicirikan dengan bentuk buahnya yang bulat, berukuran agak kecil daging buah dengan biji dapat dipisahkan dengan cara diiris sekeliling buah dan diputar.

Kasturi (Mangifera casturi Kosterm/ Mangifera casturi Delmiana).

Kelompok mangifera ini dicirikan dengan aroma yang khas. Buah berukuran kecil dengan berat/buahnya mencapai 50- 75 gram, berbentuk bulat sampai bulat agak memanjang. Kulit buah muda berwarna hijau, kalau matang berangsur-angsur menjadi ungu. Daging buah berwarna jingga dengan rasa manis yang khas. Kasturi mempunyai wilayah penyebaran yang sempit (Kalimantan), dan tergolong dari 200 jenis tumbuhan langka di Indonesia yang harus dilestarikan. Kasturi diabadikan sebagai maskot flora Kalimantan Selatan.

Kasturi rawa-rawa/Asam rawa-rawa (Mangifera sp)

Tanaman yang mirip dengan kasturi ini dibedakan oleh bentuk buah yang agak memanjang. Rasa dan aromanya yang khas, manis, tidak begitu menusuk dan tidak berserat. Kulit buah bagian pangkal berwarna hijau, bagian ujung berwarna ungu.

Kasturi palipisan (Mangifera sp).

Mempunyai buah yang lebih besar dibanding Kelompok kasturi lainnya, berat/buah

dapat mencapai lebih dari 100 gram. Warna daging buah jingga, agak berserat, padat, dengan rasa manis. Buah muda berwarna hijau, buah yang masak dicirikan dengan warna ungu pada ujung buah.

Kasturi cuban(Mangifera sp).

Kerabat kasturi ini dicirikan dengan bentuk buahnya yang bundar, dengan ukuran lebih kecil dibanding kelompok kasturi lainnya. Berat buah antara 40 – 75 gram. Daging buah berwarna kuning,lunak, agak berserat. Rasa buahnya manis asam yang segar.

Binjai manis (Mangefera kemanga)

Kerabat ini mempunyai rasa manis dan aroma yang khas. Daun bulat telur

memanjang, tebal dan liat berukuran agak besar, dengan tulang daun yang tidak

tampak. Bunga kecil, dalam karangan bunga berbentuk malai, warna putih. Buah berbentuk lonjong, daging buah putih, lunak, warna kulit buah hijau. Buah yang masak dicirikan dengan daging buah yang lunak dan timbulnya aroma khas. Biji besar, berwarna ungu. Binjai yang manis ini dikenal pula dengan nama daerah kalimantan binjai wanyi.

Binjai masam (Mangefera kemanga)

Binjai ini dicirikan dengan raba daging buahnya masam ini yang masam. Warna kulit buah yang matang bervariasi ada yang cokelat, cokelat kemerahan dan hijau.

NANGKA

a. Determinasi

Nangka tergolong kedalan divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Morales, Famili Moraceae, Genus Artocarpus dan Spesies Arthocarpus heterophylla Lamk atau Arthocarpus integra.

b. Morfologi

Tanaman berumah satu (monoceus), berupa tumbuhan keras/tahunan (pareneal), berbentuk pohon (arbor), dengan tinggi dapat mencapai 25 meter, kayunya berwarna kuning, mengandung getah, percabangan banyak, berdaun rimbun. Bentuk daun memanjang, tepi rata, berwarna hijau tua, mengkilat. Bunga bersifat monoecious, Buahnya merupakan buah semu, menggantung pada ranting atau cabang utama, bentuk memanjang, berduri temple pendek yang runcing. Buah muda berwarna hijau, kalau masak tangkai dan kulit buah menguning, duri buah menumpul dan menjarang, serta berbau manis yang keras. Warna daging buah dan ketebalannya bervariasi, ada yang berwarna kuning muda, kuning dan jingga. Rasanya manis. Biji berwarna coklat muda, berukuran 3,5 cm.Pada 100 g nangka muda mengandung :

air 72-77,2 g, protein 1,3-2 g, lemak 0,1-0,4 g, pati 18,9-25,4 g, serat 0,8-1,11 g, abu 0,8-1,4 g, kalsium 22-37 mg, fosfor 18-38 mg, besi 0,4-1,1 mg, sodium 2 mg, potasium 407 mg, vitamin A 175-540 IU, thiamin 0,03-0,09 mg, riboflavin 0,05 mg, niacin 0,9-4 mg dan vitamin C 8-10 mg.

c. Kerabat-kerabat nangka.

Tarap(Artocarpus odoratissimus). Kerabat ini mempunyai daerah penyebaran yang sempit. Buah berbentuk bulat, berduri lunak dan panjang, Kulit buah hijau dan keras sewaktu muda, berangsur- angsur coklat kekuningan dan lunak kalau

sudah masak. Daging buah berwarna putih, lunak dan manis. Biji berwarna putih,

berukuran kecil. Daun ber ukuran besar. Kulit batang bergetah.

Kopuan(Artocarpus lanceifolia)

Kerabat ini mirip dengan tarap, yang membedakan hanya warna daging buahnya yang jingga dan duri buahnya yang pendek dan agak keras.

Cempedak(Artocarpus intgra)

Kerabat ini dicirikan dengan daunnya yang berbulu banyak dan lebih panjang dibanding nangka. Bunga tersusun dalam tandan. Kulit buahnya tidak kasar, dengan bentuk buah yang bundar memanjang. Aroma buahnya sangat khas dan menusuk, daging buah melekat pada biji, agak tipis, lembek ber serat, berwarna kuning dan rasanya manis.

Baca juga tanaman-tanaman khas rawa lainnya.

Manggis, Rambutan, Jeruk siam, Langsat, Ketapi, Ramania, rambai, sawo pancukan (nam-nam) dan buah mentega, Srikaya, kalangkala. Tanaman rawa Kalimantan.



Artikel yang berhubungan :

tanaman rawa

kapul

langsat

ramania

rambutan

srikaya

sawo pancokan

rambai

manggis

kalangkala

ketapi

limau siam

tumbuhan kalsel terancam punah

ketapi suntul

lai

gitaan

Baca SelengkapnyaTumbuhan langka
mjumani, Updated at: Juli 08, 2009

Tanaman langka

MANGGIS

a.Determinasi

Manggis tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Kelas Dicotyledoneae, Ordo Guttiferales, Famili Guttiferae, Genus Garcinia dan Spesies Garcinia mangostana L,.

b. Morfologi.

Tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 6-20 m. Berbatang lurus, dengan cabang cabang yang simetris menyusun tajuk yang berbentuk piramide teratur. Semua bagian tanaman mengeluarkan getah kuning bila dilukai. Daun tunggal ( folium simplex), bentuk oval memanjang (oblongus). Buah berbentuk bulat, bertipe buah buni, berkulit licin, berwarna hitam, daun kelopak tetap menempel, dan diujung buah masih kelihatan cuping bekas kepala putik yang jumlahnya sama dengan banyaknya segmen daging buah yang berada di dalamnya. Buah berbentuk bulat panjang 3 cm – 6 cm, dengan diameter 4 cm – 7,5 cm. Nilai nutrisi per 100 g daging buah adalah : air 79,2 g, protein 0,5 g, karbohidrat 19,8 g, serat 0,3 g, kalsium 11 mg, fosfor 17 mg, besi 0,6 mg, vitamin A 14 IU, vitamin C 66 mg.

c. Kerabat kerabat manggis

Manggis ganal/ besar (Garcinia mangostana L) Buah berbentuk bulat, berukuran

besar, panjang 10 cm-15 cm, dengan diameter 10 cm-15 cm. Warna daging

buah putih, lunak, manis,berair. Kulit buah berwarna hitam. Tanaman manggis

ganal ini hasil eksplorasi di wilayah DAS Sungai Sesayap Malinau, Kalimantan

Timur.

Mundar/bundar (Garcinia forbesii).

Buah mundar berwarna merah cerah, berbentuk bundar, berkulit buah yang tipis dan lunak. Daging buah berwarna putih, dengan rasa manis, semakin dekat kebiji akan terasa asam segar. Berat/buah 40-60 gram. Biji

berukuran kecil, pipih dengan berat 0,2 gram. Bundar berbuah lebih produktif di banding manggis. Sepanjang ranting muncul buah berkelompok 2 sampai 7 butir.

Kacapuri

Kerabat manggis ini berupa pohon, tinggi 6-20 meter. Daun tunggal, permukaan licin mengkilat. Bentuk buah bundar, buah muda berwarna hijau, berangsur-angsur kekuningan kalau matang. Kulit buah keras, tebal. Daging buah putih, transparan, tipis, dengan rasa manis kecut. Biji keras,coklat kehitaman, mengkilat.

Baca juga tanaman-tanaman khas rawa lainnya.

Manggis, Rambutan, Jeruk siam, Langsat, Ketapi, Ramania, rambai, sawo pancukan (nam-nam) dan buah mentega, Srikaya, kalangkala. Tanaman rawa Kalimantan.

Baca SelengkapnyaTanaman langka
mjumani, Updated at: Juli 08, 2009

Tanaman khas kalimantan

KETAPI
a. Determinasi.
Ketapi tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Meliales,Famili Meliaceae, Genus Sandoricum dan spisies Sandoricum koetjape Merr.
Buah Ketapi
 b. Morfologi.
Tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 15-30 m. Daun majemuk, anak daun samping bertangkai pendek,anak daun ujung bertangkai panjang. Anak daun berbentuk elliptis, ujung meruncing, tepi rata. Malai diketiak daun menggantung kebawah, berambut, bunga bertangkai pendek, berbau harum. Buah merupakan buah batu, berbentuk bulat atau bulat dengan pangkal meruncing, buah muda berwarna hijau, berangsur kuning kalau matang. Daging buah berwarna putih, lunak lengket dengan biji, dengan rasa masam sampai manis. Tanaman ketapi ini cukup adaptif tumbuh di lahan rawa pasang surut,
yang biasanya terdapat di sepanjang aliran sungai.
c. Jenis-jenis ketapi
Ketapi suntul (Sandoricum koetjape Merr)
Dicirikan dengan buah yang berbentuk bulat dengan pangkal meruncing,
ukuran lebih kecil dan rasa yang manis.


Buah Ketapi | Sandoricum koetjape

Ketapi masam (Sandoricum koetjape Merr)
Buah bulat dengan pangkal
meruncing, berukuran besar, dengan rasa
masam.
Baca juga tanaman-tanaman khas rawa lainnya.
Manggis, Rambutan, Jeruk siam, Langsat, Ketapi, Ramania, rambai, sawo pancukan (nam-nam) dan buah mentega, Srikaya, kalangkala. Tanaman rawa Kalimantan.
Baca SelengkapnyaTanaman khas kalimantan
mjumani, Updated at: Juli 08, 2009

Sabtu, 04 Juli 2009

Tarap

Tarap (Artocarpus odoratissima)

Tarap (Artocarpus odoratissima), merupakan salah satu tanamna dari keluarga besar nangka, tumbuh subur di hutan-hutan lebat yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 1000 mdpl. Tanaman tarap ini mempunyai kegunaan yang bermacam-macam. Buah yang masih muda dapat disayur, buah yang sudah masak bisa langsung dinikmati, rasanya manis dengan aroma yang khas. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan rumah di pedesaan.

Kayunya cukup kuat dengan teras berwarna kuning kecokelatan sehingga bagus untuk bahan pembuatan perabot rumah tangga. Di daerah hulu sungai pedalaman Kalimantan, tarap ditebang untuk dibuat badan perahu karena lebih tahan air. Daun tarap yang lebar dan besar dengan tajuk yang rimbun dapat dimanfaatkan sebagai peneduh pekarangan rumah dan kebun-kebun di sekitar tempat tinggal penduduk.

Tarap (Artocarpus odoratissima)



Tanaman ini merupakan tanaman langka dan harus dijaga kelestariannya karena merupakan kekayaan alam hayati atau sumber plasma nutfah yang sangat penting.

Baca SelengkapnyaTarap
mjumani, Updated at: Juli 04, 2009

Kapul

Kapul



Kapul, tanaman ini tumbuh di dataran rendah hingga 600 mdpl. Kapul banyak dijumpai di hutan-hutan primer dan sekunder. Kawasan yang disenangi adalah tanah yang cukup banyak mengandung humus dan kandungan airnya dengan kelembaban sedang. Di lingkungan masyarakat pedalaman Kalimantan, tanaman ini tidak dibudidayakan, tetapi tumbuh secara alamiah melalui biji. Selain itu, penyebaran dapat juga dilakukan oleh hewan-hewan yang menyukai buahnya. Rasa buahnya yang manis keasaman dapat dijadikan sebagai buah pencuci mulut sehabis makan, terutama pada siang hari. Cairan yang dikandung daging buahnya rasanya segar dan nikmat. Kayunya yang cukup kuat dan berserat memanjang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau bahan pembuat perkakas rumah tangga. Dahan dan rantingnya yang kering bisa dipakai sebagai bahan kayu bakar.

Baca SelengkapnyaKapul
mjumani, Updated at: Juli 04, 2009
 

mjumanion