Minggu, 08 Januari 2017

Pesona Bukit Bengapan Kabupaten Katingan

Petak Malai – Keindahan panorama alam, ragam jenis pepohonan, pesona anggrek spesies dan variasi jenis serangga di Bukit Bengapan desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai  merupakan potensi wisata alam yang sayang jika tidak dikelola dan dikembangkan. 
Objek Wisata di Kalimantan Tengah
Admin bersama rombongan saat tiba di puncak Bukit Bengapan
Bukit Bengapan, adalah salah satu bukit yang terletak di Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan. Tempat ini selain memiliki puncak dengan pemandangan alam yang indah juga kerap digunakan untuk keperluan upacara adat masyarakat setempat.  Karenanya bagi masyarakat sekitar Bukit Bengapan sudah cukup dikenal.


Objek Wisata di Kalimantan Tengah
Pemandangan Alam Dari Puncak Bukit Bengapan
Untuk menuju lokasi kita bisa menggunakan transportasi darat  dari Kasongan, Ibu kota Katingan menuju Desa Batu Tukan dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.  Rutenya yakni, Kasongan-Tumbang  Kaman- Tumbang Manggu-Batu Tukan, disarankan bagi yang ingin kelokasi menggunakan kendaraan pribadi atau carter (bisa roda 2 ataupun roda 4). 
Objek Wisata di Kalimantan Tengah
Pemandangan dari puncak Bukit Bengapan dari sisi yang lain
Sesampainya di desa Batu Tukan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan transportasi air baik berupa perahu ces, kelotok ataupun alkon ketiganya sama-sama perahu bermesin namun beda ukuran dan jenis mesin saja. Biasanya sebelum berangkat para pelancong melapor dulu ke kepala desa atau tetua desa perihal keperluan dan jumlah rombongan yang akan naik ke Bukit Bengapan.
Objek Wisata di Kalimantan Tengah
Perjuangan Tim Saat Mendaki Bukit Bengapan
Waktu tempuh dari desa Batu Tukan ke kaki bukit Bengapan kurang lebih 10-15 menit, selanjutnya perjalanan menuju puncak bukit dilanjutkan dengan berjalan kaki. Meski harus melalui medan yang cukup sulit namun mereka yang pernah mendaki bukit ini mengaku puas dengan sajian panorama alam puncak Bukit Bengapan. Selain bisa melihat desa terdekat, dari atas puncak kita juga bisa melihat bukit lain seperti Bukit Tandu dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya.


Sebelum pulang biasanya para pengunjung bukit menyempatkan diri untuk mampir di “Telaga antang patahu”  yaitu sebuah lokasi mata air dimana airnya berwarna merah. Air ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit oleh karenanya bagi mereka yang percaya selalu menyempatkan diri mencuci muka atau meminta air di telaga ini.
Baca SelengkapnyaPesona Bukit Bengapan Kabupaten Katingan
mjumani, Updated at: Januari 08, 2017

Minggu, 18 Desember 2016

Contoh Surat Keterangan Asal Usul

Surat Keterangan Asal Usul dibutuhkan untuk berbagai keperluan salah satunya adalah ketika ingin mengeluarkan hasil hutan misalnya kayu dari jenis Sengon, Jabon, Nangka, Petai, Jengkol, Lamtoro, Trembesi, Durian, dan jenis kayu lainnya yang memang diijinkan untuk dikeluarkan dari hutan.
Contoh Surat Keterangan Asal Usul
Contoh Surat Keterangan Asal Usul

Cara membuat dokumen SKAU (Surat Keterangan Asal Usul) tidaklah terlalu sulit. Namun demikian peranannya sangat penting sebagai bukti legalitas kepemilikan kayu yang akan dikeluarkan atau diangkut keluar dari hutan.

Beberapa point yang harus tercantum dalam Dokumen SKAU antara lain :
1. Nama pemilik      : 
2. Bukti identitas      : KTP/
3. Bukti legalitas tanah  : 
4. Telah melakukan penebangan hasil hutan berupa kayu milik sendiri yang terdiri dari :
a. Jenis Kayu       :
b. Jumlah barang       : 
c. Volume       :
5. Akan diangkut/dijual dengan rincian sebagai berikut :
a. Jenis Kayu        :
b. Jumlah Batang        : batang
c. Volume        : M3
d. Tujuan Pengangkutan  :

Contoh format SKAU berikut bisa anda download sebagai gambaran untuk membuat Surat keterangan Asal Usul, khususnya bagi anda yang belum pernah membuatnya. Berikut ada dua format dokumen SKAU yaitu Surat Keterangan Asal Usul dan Surat Permohonan SKAU.


Baca SelengkapnyaContoh Surat Keterangan Asal Usul
mjumani, Updated at: Desember 18, 2016

Minggu, 03 Juli 2016

Cara Beriklan Di Facebook Melalui Transfer Bank

Para pengguna Facebook tentu sudah tau akhir-akhir ini sering muncul iklan/sponsor tentang Cara beriklan di Facebook dan Instagram tanpa kartu kredit dengan metode pembayaran melalui ATM atau transfer Bank. Banyak yang penasaran tentang metode pembayaran ini termasuk saya. 

Untuk diketahui beriklan dengan metode pembayaran via atm atau transfer bank ini baru muncul jika kita mengaksesnya melalui PC atau Laptop, jadi tidak muncul jika menggunakan smartphone atau hp. Karena rasa penasaran saya kemaren mencoba metode ini.

Karena hanya sebatas penasaran dan ingin tahu barangkali bisa membuat reviewnya maka saya mencoba menggunakan metode pembayaraan ini. Sekali lagi hanya ingin memastikan apakah ini work atau tidak, saya menambahkan saldo dengan nominal kecil saja yakni Rp 50 ribu. Saat itu saya melakukan order pada hari Sabtu (02/07/16), namun baru bisa saya transfer hari Minggu, sehari setelahnya.

Kebetulan saya memiliki ATM BCA dan menyelesaikan transfer sesuai dengan petunjuk payment procces (bisa di lihat di screenshoot di atas)



Sampai tahap ini tidak ada masalah, sesampainya di rumah saya mendapatkan notifikasi email pembaruan pembayaran dimana berisi informasi bahwa saldo sebesar Rp 50 ribu sudah ditambahkan ke akun iklan saya. 
Singkat kata saya melanjutkan ke pengelolaan iklan dan mempersiapkan salah satu halaman yang saya kelola untuk di iklankan menggunakan saldo tersebut. Namun iklan tersebut hanya sempat tayang beberapa menit, dan muncul peringatan bahwa akun iklan saya di non aktifkan karena di anggap telah melanggar kebijakan.

"Akun iklan Anda telah ditandai untuk pelanggaran kebijakan. Iklan apa saja yang Anda jalankan telah dinonaktifkan. Jika Anda meyakini bahwa ini adalah kesalahan, harap hubungi kami"

Sebenarnya saya sudah membaca dan mencoba memahami kebijakan-kebijakan periklanan facebook dan sepertinya saya belum menemukan ada hal dalam iklan saya yang melanggar kebijakan. Karena masalah ini pula saya mencoba bertanya di grup Blogger Banua, dan mencoba beberapa tips namun sampai saat ini akun iklan saya masih belum bisa di aktifkan. Imbasnya semua halaman yang saya kelola fitur promosinya berubah menjadi "promosi tidak tersedia". 


Update : Karena tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan selain menghubungi facebook team ads melalui fitur support nya akhirnya sekitar seminggu kemudian pengaduan saya ditanggapi dan akun iklan saya kembali di aktifkan. Dalam pesan tersebut tidak dijelaskan kenapa akun saya sempat di blokir namun sepertinya itu cuma kesalahan sistem. Jadi jika anda mengalami hal serupa ada baiknya jika memang merasa tidak ada melanggar kebijakan cobalah menghubungi facebook team ads melalui fitur supportnya dan bersabarlah.. jika beruntung akun anda pasti akan kembali bisa di akses.



Baca SelengkapnyaCara Beriklan Di Facebook Melalui Transfer Bank
mjumani, Updated at: Juli 03, 2016

Jumat, 01 Juli 2016

Teacher's Diary

Sudah menonton film Teacher's Diary ? 

Dalam hubungannya dengan dunia pendidikan menurutku film ini adalah salah satu film terbaik yang pernah aku tonton. Meski tidak bisa disejajarkan karena memang berbeda, Teacher's Diary bagiku sama menginspirasinya dengan Laskar Pelangi, 3 Idiots ataupun Sokola Rimba. 
Teacher's Diary
Ada dua hal yang membuat film ini seolah memiliki ikatan emosional dengan ku. Pertama karena lokasi syuting di sekolah apung di Kang Ka Jan Natural Park di Phetchaburi Province mirip dengan kondisi di Waduk Riam Kanan (Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar - Kalsel). Kedua kondisi alam dan letak geografisnya yang menyebabkan daerah tersebut masih tanpa listrik, sinyal dan internet persis seperti yang aku rasakan. 
Khru Ann
Mewakili Guru yang lebih cerdas dan lebih terampil
Aku dapat membayangkan beratnya perjuangan anak-anak yang tinggal di sekitar Waduk Riam Kanan, meski sekolahnya tidak berada di atas air tetapi desa mereka terpisah-pisah dan terisolasi oleh air. Anak-anak dari 12 desa yang ada di pinggiran waduk ini sebagian juga harus naik perahu motor (ces atau alkon) untuk bisa sampai ke sekolah. Sama halnya dengan murid-murid sekolah apung dalam Film Teacher's Diary tersebut.  Seingatku saat beberapa kali kesana sekitar tahun 2009-2012 di sana juga masih sulit sinyal telekomunikasi.
Khru (Guru) Song
Guru Biasa Tetapi dedikasinya menghangatkan hati
Meski hanya tinggal di pinggiran kota, sebagai manusia yang sudah merasakan kemudahan hidup dengan berbagai fasilitas, wajar jika beberapa hari saja di hutan kita akan "galau". Membayangkan tanpa internet beberapa hari saja sudah akan membuat kita pangling, bagaimana jika semua dibuat real dan komplit, tanpa sinyal, listrik, internet dan tidak hanya beberapa hari tapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Inilah yang membuat ku seolah merasakan apa yang di alami Bu Ann dan Song terutama saat menjadi guru, bekerja ditengah semua keterbatasan sarana prasarana dan kendala sosial masyarakat yang ada dan berjuang melewati saat krisis dan titik jenuh menjalankan profesi dengan anak-anak yang cukup terbelakang. 

Melalui Khru (guru) Ann dan Song, kita (para guru) di ingatkan kembali bahwa guru tidak harus ideal, guru harus bekerja dengan hati. Guru memang tetap harus menguasai materi yang diajarkannya tetapi yang lebih penting guru tidak boleh lupa bahwa dia mengajar manusia muda. Membangun generasi masa depan yang suatu ketika akan mengambil peran dalam masyarakat. 

Sebenarnya ini adalah film drama romantis yang cukup keren, tidak hanya perjuangan menjadi guru di daerah antah beranah yang bisa bikin "mewek" tetapi juga kisah asmaranya. Sayangnya banyak penonton yang merasa kurang puas karena ending kelanjutan hubungan Bu Ann dan Pak Song tidak diceritakan lebih lanjut sehingga banyak yang berharap akan ada kelanjutan dari film ini. 

Menulis ini membuat ku ingin menonton ulang film ini lagi. Yuk sama-sama nonton !

Salam inspirasi, #saveguru
Baca SelengkapnyaTeacher's Diary
mjumani, Updated at: Juli 01, 2016

Rabu, 22 Juni 2016

Sahur dan "Meteorgarden"

Waktu sudah menunjukan pukul tiga, meski aku telah beberapa kali terbangun sebelumnya tapi kali ini aku harus benar-benar terjaga. Aku duduk dan mengusap kedua mataku. Alarm yang telah ku set sebelum tidur menjadi penanda agar aku segera beraktivitas, menyiapkan menu sahur.


Sebagai manusia "manja" yang tidak pernah merasakan "indahnya" hidup nge-kost, menyiapkan menu sahur sendiri nyatanya tidak mudah. Selain harus berjuang melawan kantuk, aku juga harus memutar otak mencari menu yang bisa memancing selera makan. Tapi masalah itu sepertinya segera terpecahkan, karena hanya ada dua bungkus mie instan yang bisa ku masak. "Ah, rupanya hari ini adalah hari keberuntungan ku", batinku. Aku menghela nafas.

Sayup-sayup suara marbot masjid yang sedari tadi mengingatkan sahur masih terdengar, ketika semangkuk mie rebus sudah ada di hadapanku. Bukannya sombong, mie instan bukanlah makanan asing bagiku meski bukan anak kost. Di "pengasinganku" (baca: tempat tugasku), menu "meteorgarden" istilah untuk kami menyebut mie, telor, garam dan sarden, adalah lauk atau menu pokok yang sulit terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Jika nasi dengan lauk sarden atau telur dadar tidak bisa menggugah selera makan, biasanya pelarianku adalah mie instan. Dua bungkus mie goreng yang cara masaknya direbus tersebut selalu tanpa sisa. Itu cukup mengganjal perutku hingga beberapa jam. 

Sayangnya untuk kali ini aku harus menanggalkan "rekor" makan mie ku itu. Seleraku benar-benar lenyap entah kemana. Baru beberapa sendok perutku sudah terasa eneg. Aku menuang segelas air putih dan menenggaknya, berharap bisa menetralkan selera makanku, namun semua sia-sia. 

Aku kembali menuang segelas air putih, dan membuka sebungkus roti. "Semoga aku kuat menjalani hari ini", doaku dalam hati. 

Selain wujud ketakwaan kita kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, aku percaya puasa memiliki banyak manfaat. Selain untuk kesehatan, berpuasa juga membuat kita bisa merasakan penderitaan rakyat miskin, korban perang dan anak-anak terlantar. Karena tidak sedikit dari mereka yang ber "puasa" tanpa tahu kapan bisa berbuka. 

Aku juga salut untuk mereka yang bisa hidup berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun melewati setiap Ramadhan dengan kesendirian, terpisah dari keluarga dan orang-orang terdekat mereka karena berbagai keadaan. 
Baca SelengkapnyaSahur dan "Meteorgarden"
mjumani, Updated at: Juni 22, 2016

Rabu, 08 Juni 2016

Kisahku dan Kisah Hidup Andy F Noya Bagian 2

Tulisan ini adalah kelanjutan dari "curhat" yang beberapa waktu lalu ku posting. Jika belum, anda boleh membacanya dulu di Kisahku dan Kisah hidup Andy F Noya

Alkisah, setelah aku mendapkan pesan inbox dari Penerbit Buku Kompas tanggal 6 April 2016, aku kembali ke tempat tugas sebut saja di pedalaman Kalimantan (biar lebih dramatis). Tak akan mudah menemukan sinyal di sana, meski hanya sekedar untuk bisa sms dan jangan berhayal bisa browsing dan berselancar di dunia maya. Sehigga sulit bagiku untuk memantau kiriman paket tersebut. Tetapi berdasarkan pengalaman beli barang via online dan donasi buku untuk Taman Baca Baraoi, belum pernah mengalami masalah dengan alamat rumah yang aku kasih. 

Tanggal 29 Mei 2016, setiba di rumah Aku menanyakan perihal paket tersebut kepada Ibu, Kakak, dan Adik ku, namun tak seorangpun dari mereka yang merasa menerima paket atas namaku. Keesokan harinya (30 Mei 2016) sekitar pukul 12.35 WITA aku menanyakan kembali paket yang telah dijanjikan oleh Penerbit Buku Kompas, mengapa tidak kunjung tiba. Kali ini pesan tersebut langsung dibalas hanya berselang kurang lebih 2 jam. Berikut salinan pesanan balasan tersebut;

"Yth. Bapak Jumani, terima kasih atas pesannya. 

Dengan ini kami sampaikan bahwa buku tsb sudah kami kirimkan tanggal 07 April 2016 dengan jasa pengiriman JNE dan sudah sampai ke alamat kirim pada tanggal 11 April 2016 diterima oleh M. Jumani. 

Berikut nomer resi pengirimannya :  CGK9M01583671416 

Demikian hal ini kami sampaikan kepada Bapak, atas pehartiannya kami ucapkan terima kasih.

Salam"

What?, Kemana bukuku?, Dalam perasaan campur aduk dan galau aku melakukan tracking nomor resi yang diberikan. Bla...bla...blaa.., kegalauan semakin memuncak, di situs tracking tersebut benar tertulis  bahwa paket sudah sampai dan diterima oleh si penerima. Jadi dimana buku ku ?

Siapakah yang berbohong, atau dimanakah letak kesalahannya ?

Seakan tidak terima, aku kembali "mengintrogasi" Ibu, Kakak, dan tiga adiku yang saat itu hanya merekalah yang ada di rumah sewaktu aku di pedalaman. Hasilnya tak jauh berbeda, semua merasa yakin tidak ada menerima paket dalam rentang waktu dikirim hingga aku tiba di rumah, kecuali ibu ku. Beliau seolah mengalami dejavu, dengan tidak yakin apakah itu nyata atau tidak sepertinya ada menerima paket seperti yang aku ceritakan. 

Aku tahu, meski ibu masih terbilang muda tetapi beliau memang terkenal pelupa. Namun untuk sementara sepertinya ini adalah sepercik harapan yang aku miliki. Aku menggeledah setiap sudut rumah, lemari pakaian, lemari barang, laci-laci dan bahkan tak terkecuali kolong-kolong ranjang berharap ibu benar-benar menerima paket tersebut dan hanya lupa meletakannya.

Entah karena penyakit galau akut, atau penantian yang seolah tidak berujung aku seakan kehilangan akal sehat. Seminggu sudah aku "mengobrak-abrik" rumah. Setiap kotak dan kantong plastik yang aku temui di rumah dan belum aku jamah ku periksa da berharap itu adalah paket ku. Paket yang aku tunggu kurang sebulan lagi setahun sudah.

Di puncak pesimistis dan kegalauan aku nyaris menyerah dan mengikhlaskan paket tersebut, barang kali ini yang namanya bukan "jodoh" pikir ku. Sampai secara tidak sengaja, entah terlintas dari mana tiba-tiba terbesit dalam kepalaku, apakah mungkin status "barang sampai di alamat" hasil tracking tersebut keliru?. Aku pun melakukan browsing, ternyata ada beberapa kasus terjadi. Mungkin inilah usaha terakhir yang dapat kulakukan, tentunya upaya yang layak dicoba sebelum benar-benar mengiklhaskan.

Tanggal 8 Juni 2016, cuaca sangat menyengat meski saat itu masih menunjukan waktu pukul sebelas pagi. Aku mgendarai motor dengan kecepatan sedang menuju agen jasa ekspedisi JNE terdekat. Seorang perempuan lebih muda dari ku mencoba menanyakan keperluanku. Sembari menyodorkan selembar kertas berisi catatan nomor resi, akupun menjelaskan perihal paket "misterius" yang kini entah berada dimana.  

Perempuan itu meraih "mouse"nya, dan mencoba mengetikan sandi dan segera menginput nomor resi yang telah aku berikan.  Entah karena gugup, belum terbiasa atau barangkali aku yang saat itu tidak sabar, perempuan tersebut tampak sangat lambat. 

Seorang lelaki paruh baya yang sedari awal kedatanganku duduk di depan monitronya di sudut ruangan rupanya diam-diam menyimak pembicaraan kami. Dia bangkit dari tempat duduknya, dan lantas menanyakan alamat tujuan paket serta isinya. Dibanding si perempuan tampak bahwa lelaki ini lebih bersahabat dan mengerti permasalahanku. 

Sembari mengecek tumpukan paket beramplop, lelaki tersebut sekali lagi menanyakan isi paket tersebut kepadaku. "Bukunya Andy F Noya, bukan?" tanya lelaki itu setelah sepertinya terlihat menyerah tidak menemukan sesuatu yang Ia cari dari tumpukan paket. "Kalau tidak salah memang ada paket buku yang diretur, tapi nanti saya coba telepon pusat dulu, silahkan tinggalkan nomor Hp nya nanti kami hubungi lagi". Papar lelaki itu sembari mengambil ballpoin dan selembar kertas.

Setelah meninggalkan nomor Hp, dan mengucapkan terimakasih aku kembali kerumah. Sungguh lega rasanya, jauh lebih lega saat ibuku cerita bahwa Ia mungkin ada menerima paket tapi entah itu nyata, dejavu atau cuman terbawa mimpi. Dua jam berselang, Hp ku berbunyi, sebuah pesan singkat berbunyi "Paket nya dari  kompas bisa di ambil jam 4 sore ini di counter JNE". Alhamdulillah. 

Itulah perjalanan panjang dan lika-liku Andy F Noya Kisah Hidupku bisa sampai di tanganku. Oh ya, selain buku tersebut juga ada buku Sarwo Edhie Dan Tragedi 1965 yang dikirimkan oleh Penerbit Buku Kompas katanya sih sebagai wujud penyesalan, walaupun hanya ada satu dari dua buku terbitan lainnya yang dijanjikan.
Buku Andy Noya kisa hidupku

Sebelum saya akhiri saya memohon maaf telah menyebut beberapa pihak dalam tulisan ini, semua tidak lain tujuannya adalah untuk memotivasi dan dengan harapan dapat diambil manfaat walalupun sekecil-kecilnya dari tulisan ini. Bahwa hakmu patut diperjuangkan, bukan ditunggu dengan kepasrahan.

Akhir kata ijinkanlah saya mengutip "Quote" Andy Noya :

"Tidak perlu menunggu
untuk bisa menjadi cahaya
bagi orang-orang
di sekelilingmu. Lakukan
kebaikan, sekecil apa pun 
sekarang juga"

_Andy Noya_

Salam hangat,
Muhammad Jumani



Baca SelengkapnyaKisahku dan Kisah Hidup Andy F Noya Bagian 2
mjumani, Updated at: Juni 08, 2016

Selasa, 07 Juni 2016

Ganti ATM dan Perubahan Nama Pemilik Rekening BCA

Pernah Ganti Kartu ATM atau ubah nama pemilik rekening di bank BCA ?, jika belum dan kebetulan anda akan melakukan hal serupa mungkin pengalaman saya ini bisa menjadi pertimbangan agar anda tidak bolak-balik. 
Sarat mengubah nama pemilik rekening

Awalnya saya tidak menyadari bahwa kartu ATM BCA saya mengalami lecet atau goresan pada bagian magnetic stripe yaitu bagian seperti garis hitam di belakang kartu. Hal tersebut baru saya sadari saat mencoba melakukan pengecekan saldo di ATM (Anjungan Tunai Mandiri) dan ternyata data tidak terbaca walaupun telah beberapa kali di coba. 

Karena yakin bahwa hal tersebut adalah karena kartu yang memang sudah aus atau rusak keesokan harinya saya mendatangi cabang bank BCA terdekat. 

Sebelumnya saya ingatkan jika anda ingin melakukan hal serupa jangan lupa membawa kartu identitas asli KTP/SIM, kartu ATM yang akan diganti dan buku tabungan anda.

Jangan khawatir, sebelum masuk pintu bank anda akan sudah disambut oleh satpam dan akan ditanya perihal keperluan jadi tinggal utarakan saja dan kalau perlu bisa  sekalian minta ambilkan nomor antri.  
Sebenarnya proses peganggantian kartu ATM ini tidak lama, bahkan perkiraan saya kurang dari 10 menit, hanya saja waktu itu nama rekening saya sebelumnya menggunakan singkatan karena nama awal saya adalah Muhammad maka disingkat dengan "M"..bukan nama lengkap sebagaimana yang tertera di kartu identitas yang baru (KTP elektronik), (saat pertama kali buka rekening nama di KTP masih disingkat, sedangkan di KTP elektronik ditulis lengkap). Akhirnya saya di kasih opsi apakah ingin merubah nama pemilik rekening sesuai kartu identitas. 

Sayangnya saat itu saya tidak membawa kartu keluarga (asli), sehingga saya harus balik keesokan harinya. Untungnya prosesnya juga relatif singkat (hanya kurang lebih 5 menit), dan jangan lupa jika anda ingin melakukan  hal yang sama yakni merubah nama pemilik rekening, pastikan anda bawa KTP/SIM, Kartu Keluarga, dan Buku Tabungan sebagai saratnya. Oh iya, tambahan satu lagi materai 6000, karena nanti ada surat pernyataan mengubah nama yang memerlukan materai, biasanya formulir ini di isikan oleh petugasnya jadi tinggal tanda tangan aja.
Baca SelengkapnyaGanti ATM dan Perubahan Nama Pemilik Rekening BCA
mjumani, Updated at: Juni 07, 2016
 

mjumanion