Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2016

Sahur dan "Meteorgarden"

Waktu sudah menunjukan pukul tiga, meski aku telah beberapa kali terbangun sebelumnya tapi kali ini aku harus benar-benar terjaga. Aku duduk dan mengusap kedua mataku. Alarm yang telah ku set sebelum tidur menjadi penanda agar aku segera beraktivitas, menyiapkan menu sahur.


Sebagai manusia "manja" yang tidak pernah merasakan "indahnya" hidup nge-kost, menyiapkan menu sahur sendiri nyatanya tidak mudah. Selain harus berjuang melawan kantuk, aku juga harus memutar otak mencari menu yang bisa memancing selera makan. Tapi masalah itu sepertinya segera terpecahkan, karena hanya ada dua bungkus mie instan yang bisa ku masak. "Ah, rupanya hari ini adalah hari keberuntungan ku", batinku. Aku menghela nafas.

Sayup-sayup suara marbot masjid yang sedari tadi mengingatkan sahur masih terdengar, ketika semangkuk mie rebus sudah ada di hadapanku. Bukannya sombong, mie instan bukanlah makanan asing bagiku meski bukan anak kost. Di "pengasinganku" (baca: tempat tugasku), menu "meteorgarden" istilah untuk kami menyebut mie, telor, garam dan sarden, adalah lauk atau menu pokok yang sulit terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Jika nasi dengan lauk sarden atau telur dadar tidak bisa menggugah selera makan, biasanya pelarianku adalah mie instan. Dua bungkus mie goreng yang cara masaknya direbus tersebut selalu tanpa sisa. Itu cukup mengganjal perutku hingga beberapa jam. 

Sayangnya untuk kali ini aku harus menanggalkan "rekor" makan mie ku itu. Seleraku benar-benar lenyap entah kemana. Baru beberapa sendok perutku sudah terasa eneg. Aku menuang segelas air putih dan menenggaknya, berharap bisa menetralkan selera makanku, namun semua sia-sia. 

Aku kembali menuang segelas air putih, dan membuka sebungkus roti. "Semoga aku kuat menjalani hari ini", doaku dalam hati. 

Selain wujud ketakwaan kita kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, aku percaya puasa memiliki banyak manfaat. Selain untuk kesehatan, berpuasa juga membuat kita bisa merasakan penderitaan rakyat miskin, korban perang dan anak-anak terlantar. Karena tidak sedikit dari mereka yang ber "puasa" tanpa tahu kapan bisa berbuka. 

Aku juga salut untuk mereka yang bisa hidup berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun melewati setiap Ramadhan dengan kesendirian, terpisah dari keluarga dan orang-orang terdekat mereka karena berbagai keadaan. 
Baca SelengkapnyaSahur dan "Meteorgarden"
mjumani, Updated at: Juni 22, 2016

Rabu, 08 Juni 2016

Kisahku dan Kisah Hidup Andy F Noya Bagian 2

Tulisan ini adalah kelanjutan dari "curhat" yang beberapa waktu lalu ku posting. Jika belum, anda boleh membacanya dulu di Kisahku dan Kisah hidup Andy F Noya

Alkisah, setelah aku mendapkan pesan inbox dari Penerbit Buku Kompas tanggal 6 April 2016, aku kembali ke tempat tugas sebut saja di pedalaman Kalimantan (biar lebih dramatis). Tak akan mudah menemukan sinyal di sana, meski hanya sekedar untuk bisa sms dan jangan berhayal bisa browsing dan berselancar di dunia maya. Sehigga sulit bagiku untuk memantau kiriman paket tersebut. Tetapi berdasarkan pengalaman beli barang via online dan donasi buku untuk Taman Baca Baraoi, belum pernah mengalami masalah dengan alamat rumah yang aku kasih. 

Tanggal 29 Mei 2016, setiba di rumah Aku menanyakan perihal paket tersebut kepada Ibu, Kakak, dan Adik ku, namun tak seorangpun dari mereka yang merasa menerima paket atas namaku. Keesokan harinya (30 Mei 2016) sekitar pukul 12.35 WITA aku menanyakan kembali paket yang telah dijanjikan oleh Penerbit Buku Kompas, mengapa tidak kunjung tiba. Kali ini pesan tersebut langsung dibalas hanya berselang kurang lebih 2 jam. Berikut salinan pesanan balasan tersebut;

"Yth. Bapak Jumani, terima kasih atas pesannya. 

Dengan ini kami sampaikan bahwa buku tsb sudah kami kirimkan tanggal 07 April 2016 dengan jasa pengiriman JNE dan sudah sampai ke alamat kirim pada tanggal 11 April 2016 diterima oleh M. Jumani. 

Berikut nomer resi pengirimannya :  CGK9M01583671416 

Demikian hal ini kami sampaikan kepada Bapak, atas pehartiannya kami ucapkan terima kasih.

Salam"

What?, Kemana bukuku?, Dalam perasaan campur aduk dan galau aku melakukan tracking nomor resi yang diberikan. Bla...bla...blaa.., kegalauan semakin memuncak, di situs tracking tersebut benar tertulis  bahwa paket sudah sampai dan diterima oleh si penerima. Jadi dimana buku ku ?

Siapakah yang berbohong, atau dimanakah letak kesalahannya ?

Seakan tidak terima, aku kembali "mengintrogasi" Ibu, Kakak, dan tiga adiku yang saat itu hanya merekalah yang ada di rumah sewaktu aku di pedalaman. Hasilnya tak jauh berbeda, semua merasa yakin tidak ada menerima paket dalam rentang waktu dikirim hingga aku tiba di rumah, kecuali ibu ku. Beliau seolah mengalami dejavu, dengan tidak yakin apakah itu nyata atau tidak sepertinya ada menerima paket seperti yang aku ceritakan. 

Aku tahu, meski ibu masih terbilang muda tetapi beliau memang terkenal pelupa. Namun untuk sementara sepertinya ini adalah sepercik harapan yang aku miliki. Aku menggeledah setiap sudut rumah, lemari pakaian, lemari barang, laci-laci dan bahkan tak terkecuali kolong-kolong ranjang berharap ibu benar-benar menerima paket tersebut dan hanya lupa meletakannya.

Entah karena penyakit galau akut, atau penantian yang seolah tidak berujung aku seakan kehilangan akal sehat. Seminggu sudah aku "mengobrak-abrik" rumah. Setiap kotak dan kantong plastik yang aku temui di rumah dan belum aku jamah ku periksa da berharap itu adalah paket ku. Paket yang aku tunggu kurang sebulan lagi setahun sudah.

Di puncak pesimistis dan kegalauan aku nyaris menyerah dan mengikhlaskan paket tersebut, barang kali ini yang namanya bukan "jodoh" pikir ku. Sampai secara tidak sengaja, entah terlintas dari mana tiba-tiba terbesit dalam kepalaku, apakah mungkin status "barang sampai di alamat" hasil tracking tersebut keliru?. Aku pun melakukan browsing, ternyata ada beberapa kasus terjadi. Mungkin inilah usaha terakhir yang dapat kulakukan, tentunya upaya yang layak dicoba sebelum benar-benar mengiklhaskan.

Tanggal 8 Juni 2016, cuaca sangat menyengat meski saat itu masih menunjukan waktu pukul sebelas pagi. Aku mgendarai motor dengan kecepatan sedang menuju agen jasa ekspedisi JNE terdekat. Seorang perempuan lebih muda dari ku mencoba menanyakan keperluanku. Sembari menyodorkan selembar kertas berisi catatan nomor resi, akupun menjelaskan perihal paket "misterius" yang kini entah berada dimana.  

Perempuan itu meraih "mouse"nya, dan mencoba mengetikan sandi dan segera menginput nomor resi yang telah aku berikan.  Entah karena gugup, belum terbiasa atau barangkali aku yang saat itu tidak sabar, perempuan tersebut tampak sangat lambat. 

Seorang lelaki paruh baya yang sedari awal kedatanganku duduk di depan monitronya di sudut ruangan rupanya diam-diam menyimak pembicaraan kami. Dia bangkit dari tempat duduknya, dan lantas menanyakan alamat tujuan paket serta isinya. Dibanding si perempuan tampak bahwa lelaki ini lebih bersahabat dan mengerti permasalahanku. 

Sembari mengecek tumpukan paket beramplop, lelaki tersebut sekali lagi menanyakan isi paket tersebut kepadaku. "Bukunya Andy F Noya, bukan?" tanya lelaki itu setelah sepertinya terlihat menyerah tidak menemukan sesuatu yang Ia cari dari tumpukan paket. "Kalau tidak salah memang ada paket buku yang diretur, tapi nanti saya coba telepon pusat dulu, silahkan tinggalkan nomor Hp nya nanti kami hubungi lagi". Papar lelaki itu sembari mengambil ballpoin dan selembar kertas.

Setelah meninggalkan nomor Hp, dan mengucapkan terimakasih aku kembali kerumah. Sungguh lega rasanya, jauh lebih lega saat ibuku cerita bahwa Ia mungkin ada menerima paket tapi entah itu nyata, dejavu atau cuman terbawa mimpi. Dua jam berselang, Hp ku berbunyi, sebuah pesan singkat berbunyi "Paket nya dari  kompas bisa di ambil jam 4 sore ini di counter JNE". Alhamdulillah. 

Itulah perjalanan panjang dan lika-liku Andy F Noya Kisah Hidupku bisa sampai di tanganku. Oh ya, selain buku tersebut juga ada buku Sarwo Edhie Dan Tragedi 1965 yang dikirimkan oleh Penerbit Buku Kompas katanya sih sebagai wujud penyesalan, walaupun hanya ada satu dari dua buku terbitan lainnya yang dijanjikan.
Buku Andy Noya kisa hidupku

Sebelum saya akhiri saya memohon maaf telah menyebut beberapa pihak dalam tulisan ini, semua tidak lain tujuannya adalah untuk memotivasi dan dengan harapan dapat diambil manfaat walalupun sekecil-kecilnya dari tulisan ini. Bahwa hakmu patut diperjuangkan, bukan ditunggu dengan kepasrahan.

Akhir kata ijinkanlah saya mengutip "Quote" Andy Noya :

"Tidak perlu menunggu
untuk bisa menjadi cahaya
bagi orang-orang
di sekelilingmu. Lakukan
kebaikan, sekecil apa pun 
sekarang juga"

_Andy Noya_

Salam hangat,
Muhammad Jumani



Baca SelengkapnyaKisahku dan Kisah Hidup Andy F Noya Bagian 2
mjumani, Updated at: Juni 08, 2016

Minggu, 21 Juni 2009

Soneta blur dalam sebuah mimpi buruk

Oleh : Tina

Soneta blur dalam sebuah mimpi buruk (081008)


Untuk pertama kalinya dalam hidup kutuangkan desis pilu batin dalam lorong maya. Berhala yang membuat penyembahnya masuk ke dalam kepuasan semu dan blur. Granat pemusnah kelu pada pikir yang letih.
Ah, esktremitasku kaku, seakan beku. Bibirku juga gagu dan lakuku yang mulai dungu. Efek nyata saat mencoba menjangkau prestisius yang misterius.
"Dan bagaimana dengan hasut figuran nun jauh di labirin visualmu?" gertak monster yang bersarang di pusat mesencepalku.
"no, it just a nightmare!" raungku.
Baca SelengkapnyaSoneta blur dalam sebuah mimpi buruk
mjumani, Updated at: Juni 21, 2009

Jumat, 19 Juni 2009

Waktu Aku Masih Buta

Cermin (cerita mini)
Oleh : Tina

Waktu aku masih buta

Beberapa kali aku mempertimbangkan memuat tulisan ini. Tapi akhirnya toh tetap ku muat juga karena bagiku sekarang tulisan ini tinggal sepenggal cerita bodoh yang pengalamannya sangat memberi pengaruh dalam hidupku di masa sekarang. Dorongan untuk memuat tulisan ini tak lebih daripada hasrat untuk menuangkan apa yang pernah ku tulis dulu, itu saja. Rasanya sayang kalau dibiarkan apek dalam buku agendaku. Apalagi tintanya juga mulai blur. Semoga tak ada yang terganggu.
"UNTUKMU. Ini kisahku. Dia datang dalam hidupku saat aku masih menginginkanmu, walaupun kau tak dapat membaca hal itu. Dia recoki imajinasiku tentangmu, dia renggut kesibukanku berharap padamu. Ku coba alihkan perhatianku padanya tapi aku masih sangat mengharapkanmu, aku masih menunggumu yang ku puja datang dan membawaku dalam hidupmu. Tapi perjuangannya mulai menggeser posisi mutlak yang sejak kecil kusisihkan untukmu dengan hal-hal indah yang dia suguhkan. Ku masih pertahankanmu di hatiku walaupun kau tak kunjung hadir. Dia ungkapkan rasa itu dan ku pilih dirinya saat itu juga tapi aku belum melupakanmu. Pikirku ingin mencoba, dan lebih cepat memulai lebih cepat pula mengakhiri.
Sekejap bersamanya, membuatku ragu, aku yakin kau yang ku mau, bukan dia! Aku sengaja membuatnya merasa hampa denganku agar bisa bebas segera dan kembali menantimu yang tak pernah inginkan aku...dan dia terus meyakinkanku, aku tak terima ini tapi sedikitpun dia tak sangsikan perasaanku. Dia tak pernah gagal membuatku merasa indah. Semakin aku terpikat padanya semakin aku ingin bebas darinya agar hatiku tetap padamu. Aku sungguh ingin segera bebas darinya. Tapi taukah kau? Dia telah membuatku jatuh cinta saat aku ingin akhiri segalanya.
Dan kisah ini terus terjahit benang semu bernama 'sayang', di saat perasaan lelaki baik hati ini tumpah ruah untukku, aku dengan entengnya kembali merasa hampa, hatiku seperti mati, perasaan meluap-luap yang awalnya mulai bercokol di hatiku tiba-tiba lenyap tak pamit! Tak ku hiraukan lelaki malang ini. Tapi dia sangat teguh! Selama beberapa waktu dia berjuang untuk merebut perhatianku lagi, tapi hatiku masih mati! Entah kenapa bisa! Aku tak peduli dipandangnya penghianat, munafik, tak bertanggung jawab! Tapi begitulah yang terjadi padaku! Untuk itu kenapa saat itu aku hanya diam. Aku merenungi betapa bengisnya hatiku kini. Sementara itu dia tak pernah tahu bahwa yang selalu kupikirkan adalah kamu! Ini semua terjadi karena kau masih tersisa di hatiku, belum terbuang sepenuhnya!
Dan kau perlu tau juga, lelaki yang menyayangiku secara luar biasa ini juga punya batas kesabaran, dan sudah tercapailah limitnya! Ditawarinya untuk mengakhiri hubungan kami...aku terkejut...tapi senang luar biasa! Karena ini yang kutunggu sedangkan aku tak tega kalau harus memulai melakukan itu...
Tawarannya kusambar begitu saja dan sejak saat itu kuanggap semuanya selesai.
Tapi, taukah kamu? Ternyata itu hanya umpan. Dia hanya ingin tahu yang kumau! Dia hanya ingin tahu perasaanku padanya! Dia hanya ingin kepastian hatiku tentang dirinya! Tapi semuanya telah terjadi! Di saat dia memohon untuk membalik semuanya hatiku terlanjur sangat hampa, kering, dan mati. Hatiku terkunci rapat. Tak ada air apapun yang dapat mengisi kegersangan hatiku kecuali kamu. Kamulah pemilik kunci itu. Dan impianku terwujud, kami benar-benar berakhir, usai dan...PUTUS!!! Aku memang sangat kejam padanya!!
Kamu harus tahu ini. Hanya sedikit dari perhatianmu saja sudah mampu membuka peti hatiku. Hanya sebuah senyum darimu sudah mampu menghidupkan perasaanku. Hanya tatapanmu yang tak pernah kudapatkan yang bisa menyentuh kalbuku. Hai, tahukah kamu?! Bahkan melihat, menunggu, mengharapkan kedatanganmu disisiku sudah mampu membuatku merasa indah dan. . . . . . mengharapkanmu lewat di hadapanku tanpa menoleh pun sudah bisa membuatku merasa menjadi bidadari tercantik di surga.
Kamu, masih tetap ku cintai!"
Aku puas bisa membagi ini. Walaupun cerita ini di masa sekarang tak berlaku lagi bagiku karena pandanganku sudah berubah seiring bertambahnya tanggungjawabku dan semakin besarnya tantangan yang kuhadapi. Karena aku yakin bahwa kekurangan yang kumiliki akan dilengkapi oleh seseorang yang sudah disediakan-Nya untuk membimbing hidupku menuju surga-Nya.

Baca juga Part 1Part 2Part 3, dan Part 4 nya. 
Baca SelengkapnyaWaktu Aku Masih Buta
mjumani, Updated at: Juni 19, 2009

Aku ingin menjadi manusia ikhlas

Oleh : Tina

Aku ingin menjadi manusia ikhlas
Saat aku menuliskan ini kepalaku masih sangat pening, mataku masih merah, hidungku pun masih sakit, tapi aku tak menangis lagi. Saat ini aku masih tak perduli kalau nantinya aku akan menyesal telah menurunkan tulisan ini di sini. Kalau saja suatu saat setelah tulisan ini diturunkan aku akan kena perkara atau lebih buruk dari itu, aku belum peduli. Saat ini pikiranku kosong dan aku tak mau itu memicuku melakukan hal-hal yang buruk. Lebih baik aku tak membuang-buang waktu untuk meratap. Aku tak mau jadi cengeng! Jadi aku ingin membagi hal buruk yang hari ini kualami agar yang lain lebih waspada dan bisa mempelajari apa yang terjadi padaku dan tidak terulang pada yang lain. Ini hanya agar aku punya kesibukan...karena sebelum hari ini banyak sekali waktu yang telah sengaja ku buang sia-sia. Sungguh aku menyesal!! Lebih dari yang kalian pikir.

Hari ini Rabu. Buatku Rabu adalah hari biasa, tak ada yang istimewa! Cuma saja hari ini aku kena jadwal piket bersih-bersih rumah di kontrakan yang ku sewa selama sisa-sisa waktuku sebagai mahasiswa. Bangun pagi aku melakukan aktivitas rutinku. Membersihkan dan merapikan kamar, mencuci pakaian yang sebenarnya belum menumpuk_karena kamar baruku ini sangat sempit jadi aku tak akan pernah tahan jika harus melihat gunungan kain kotor di kamarku_, dan mengobrol panjang lebar dengan ayahku di telpon yang dikonfrens dengan ibuku di rumah sambil sarapan. Agendaku hari ini adalah browsing bahan untuk skripsiku. Tak banyak sebenarnya yang ingin kucari hanya saja aku ingin menambah beberapa gambar bagus untuk melengkapinya. Jam 09.30 wita aku ke kampus dan mencari teman-temanku yang sudah lebih dulu online. Saat itu kampus penuh mahasiswa berseragam hitam putih, aku dan temanku termasuk yang tidak berseragam karena hari ini kami tak ada final. Maklum, kami sudah di tingkat akhir. Empat jam aku browsing dan online di kampus. Selama itu hanya beberapa gambar yang kucari sisanya aku online di facebookku sambil bergurau dengan teman-temanku. Menjelang jam 2 tinggal satu temanku yang bersamaku. Kami memutuskan untuk off dan makan siang di samping markas Menwa. Lepas dari sana aku pulang ke kontrakan niatku untuk langsung mengedit naskah agar besok aku bisa konsultasi karena rencananya minggu ini aku mau pulang kampung lagi jadi semua urusan kampus harus segera di selesaikan. Sebelum ke kontrakan aku berbelok ke sebuah toko untuk membeli sesuatu. Tak jauh dari rumah kontrakanku, kira-kira 100 meter. Aku memarkir motorku tepat di depan gerbang toko yang merangkap rumah itu. Aku turun dan langsung menyambangi penjaga toko. Karena saat itu penjaga tokonya masih melayani pelanggan lain aku sabar menunggu giliran. Entahlah, mungkin naluri, atau apalah. Aku menoleh ke motorku untuk memastikan barang kesayanganku_ nyawaku sebagai mahasiswa, kotak ajaibku, tempat curhatku, dan segala-galanya pokoknya, karena aku bingung harus menggambarkan seperti apa sayangnya aku pada benda ini_masih bergantung di sana, ternyata_anehnya_gantungan
di sisi motorku itu kosong!!! Benda itu lenyap!! Aku langsung menghambur ke depan, ke jalan kompleks beraspal, yang jaraknya kira-kira hanya 6 meter dari toko itu. Aku sempat melihat seorang lelaki tancap gas dengan tergesa-gesa. Tinggi, hitam, jelek, besar, pakai baju putih, celana panjang hitam, jaket hitam usang_dan pasti bau_puih...!! Saat itu aku malah berteriak 'Laptoooop!!!' bukan 'maliiiing'!! Aku shock_tindakan yang hingga kini teramat kusesalkan_seharusnya aku mengejar si calon penghuni neraka itu!! Tapi aku malah bermelow-melow di sisi motorku!! Aku tidak menangis hanya tidak percaya dengan yang terjadi barusan! Di sekelilingku orang-orang mulai berdatangan. Banyak suara ku dengar dan aku lupa apa saja yang mereka ucapkan karena aku tak perduli. Aku hanya meratapi laptopku!! Hanya laptopku!! Kenapa aku ini? Laptop dibiarkan menggantung di sisi motor!! Aku benar-benar sinting saat itu. Aku sudah gila kala itu!! Aku ditenangkan seorang ibu muda, diberi minum air mineral yang ku yakin salah satu bahan jualan di toko itu. Kupaksakan untuk minum, bukan karena haus, hanya untuk menghargai kebaikan ibu muda ini, sedangkan aku sendiri tak akan tenang hanya dengan sebotol air putih, menurutku. Secara kasat mata mungkin aku tenang, dan aku masih bisa tersenyum getir saat membayar belanjaanku. Tapi dalam hati aku menyumpah luar biasa pada lelaki jelek itu!!

Dengan lutut lemas aku melangkah ke motorku dan gugup membawanya menuju rumah kontrakanku. Sampai kakiku lolos saat mencoba mengganti gigi dan sampai saat ini masih berdenyut-denyut. Tapi itu tak ada artinya dibandingkan perasaanku saat itu. Aku memikirkan bagaimana usaha ayahku untuk membelikanku barang itu! Omelan ibuku yang mewanti-wantiku untuk menjaga barang itu dengan baik! Dan apa yang sudah kulakukan?? Dengan sangat mudah barang itu lenyap seketika!! Teganya aku pada mereka! Kejamnya aku menyakiti perasaan mereka! Bodohnya aku membuat semua itu bisa terjadi! Betapa penghianatnya aku pada kepercayaan mereka!

Baca juga Part 1, Part 2, Part 3, dan Part 4 nya.
Baca SelengkapnyaAku ingin menjadi manusia ikhlas
mjumani, Updated at: Juni 19, 2009

Believe in Nothing, I'm Alone!


Oleh: Tina
Believe in nothing, I'm alone!

Benar kata orang banyak. Kota itu kejam! Tidak perlu bicara Jakarta yang jadi kota nomor 1 di Indonesia_karena aku belum sempat ke sana_lihat saja Banjarmasin! Hah, sejujurnya aku belum bisa menghapuskan apa yang terjadi padaku sore lalu, aku terjaga dan menemukan kelopak mataku teramat perih dan bengkak_tapi aku tidak menangis kok_airnya jatuh sendiri, asin di lidahku. Tidak, aku tidak menangis! Aku sangat lelah, sampai aku bingung air mata ini koq tak kering-kering juga? Padahal sudah berkubik-kubik kutumpahkan?! Aku tak punya kegiatan apa-apa sekarang, soulmateku sudah diculik orang. Soulmateku yang paling kusayangi. Benda yang ke mana-mana selalu di sisiku. Ya ampun lelahnya aku

Header Template Mjumani.com

Jangan lupa Baca juga Part 1 dan Part 2 , serta Part 4 nya.


Baca SelengkapnyaBelieve in Nothing, I'm Alone!
mjumani, Updated at: Juni 19, 2009

Senin, 30 Juni 2008

Riana








Riana 
(Cermin -Cerita Mini )


Sudah sebulan Dia tak menyapaku. Ku rasakan rindu ini telah membuncah hampir tak terbendung. “Adakah Dia juga merasakan sperti perasaan ku ?” pikirku. Mungkin inilah takdir ku, sebuah kisah yang bisa menjadi pelajaran bagi siapapun bahwa “tak selamanya mimpi itu indah”. Riana, nama yang hampir tak pernah luput kusebut di jaga dan mimpi ku. Kalau ku ingat maka tangal 20 Agustus lalu itu lah yang mengawali cerita ini. Sebuah sms biasa namun berakhir dengan kisah yang di luar nalar manusia, paling tidak bagi ku. Komunikasi mengubah segalanya meski kepala dan mata ini tahu persis siapa Dia.

Siapa yang mau jadi pecundang, begitu pula aku. Hanya seorang kampungan yang coba menentang badai demi menuju sebuah mimpi yang diyakini. Tak ada yang jadi andalan hanya ada tampang pas-pasan. Apa tak pernah ngaca atau tak punya uang tuk membeli kaca?. But whateverlah ! toh hidup adalah mencoba, dan itulah yang membuat semangat ku meninggi.
Entah kenapa, aku tak sial-sial amat, toh ternyata aku dapat sinyal positif darinya dan tentu saja back street menjadi solusinya. Yach..namanya juga sembunyi, mungkin aku berkepala batu karena orang-orang terdekatnya langsung memvonis tuk segera mengakhiri semua. Namanya juga kepala batu nasehat itu masuk telinga kiri keluar telinga kiri pula dan aku makin bersemangat berkeliaran di back street ku.

Hari kian berlalu dan berbagai rintangan dapat di lalui. Hingga hati ini semakin cinta dengan hati buta. Dan ini hanyalah sebuah permulan, jalan landai yang segera menanjak terjal.
Akhirnya ku tersandung jua, di saat ku benar-benar tak bisa jauh darinya. Ibarat layang-layang yang t’lah terbang tinggi enggan tuk turun tiba-tiba harus putus dan tak berdaya. Hati kecilku telah diberontak oleh perasaan ingin memilikinya, dan sungguh diri ini benar-benar lupa akan status “aku bukan siapa-siapa”. Perasaan yang mungkin wajar bagi seorang yang sedang melayang.

Hari-hari pikiran ku tak tenang, kala sadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Ada yang lebih dipilihnya dibanding aku, sungguh sebuah kenyataan pahit bahwa cinta hanya lah sebuah permainan membandingkan dia atau dia. Setiap waktu kesedihan mengaduk isi kepala ku ada rindu, sedih, dan kemarahan saat namanya disebut. Rindu pada cintanya, sedih akan kehilangannya dan marah entah pada siapa yang telah mempermainkan hati manusia.
Seribu cara yang ku pikirkan hanya berbuah kehampaan. “Riana, oh Riana” aku hanya bisa membisikkannya dalam hatiku. Nama yang dulu selalu ku bisikkan ditelingnya saat berada di dekatnya. Sungguh ku tak kuasa bila dia membenciku apalagi jika harus mengakhiri semua dengan perpisahan. Bukan kah manusia harus berusaha? Salahkah jika ku berusaha memperjuangkan cintaku?. Ataukah cinta itu hanya milik orang tertentu yang telah ditunjuk sang idaman hati tanpa perlu harus mencari? Aku ragu pada waktu, apakah dia yang membohongi ku?, dan sia-siakah bila aku hanya meraih gelar pecundang dalam perjuangan ku? Sungguh aku tak tau.
Oh, inikah puncak hukuman ku? Diatas tiang pancung keputus asaan yang teringat hanya sebuah janji. Janji yang mungkin terukir diatas pasir hingga baginya sesaat telah lenyap disapu gelombang. Masih kurangkah tuk ku membuktikan, hilangkah semua perasaan, haruskah ku tetap mengalah dan terus mengalah.
Riana, kau lah jawabnya....

Oleh :  mj


Baca SelengkapnyaRiana
mjumani, Updated at: Juni 30, 2008
 

mjumanion