Tampilkan postingan dengan label Khas kalsel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khas kalsel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

Burung Rawa Kalimantan Yang Hampir Punah

Burung rawa atau burung air Kalimantan ada banyak ragam jenisnya, namun sebagian besar satwa tersebut kini terancam hanya tinggal nama. Eksploitasi yang melebihi batas toleransi kemampuan perkembangbiakannya adalah salah satu penyebab kelangkaan burung-burung rawa ini. Penyebab lain tentunya adalah hilangnya habitat burung-burung tersebut karena berbagai alasan misalnya alih fungsi untuk pemukiman.
nama latin bentiungan
Burung Bentiungan atau Mandar Bat(Gallinula chloropus)
foto : Mariadi

Jenis burung rawa yang kini sudah mulai langka khususnya di Kalimantan selatan beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Mandar Batu (Gallinula chloropus)
Nama lokal untuk burung ini di Kalimantan selatan disebut Bentiungan. Burung ini adalah salah satu burung eksotis, sedikit pemalu dan cukup sulit untuk didekati. Memiliki suara khas, dengan warna umum hitam dan sedikit warna oranye-kuning di kepala sampai paruh, pada sisi sayap dan ekor ada sedikit warna putih. Bentiungan adalah salah satu jenis burung yang biasanya hidup berdampingan bersama burung-burung lain terutama Koreo Padi dan Tikusan. Namun kini keberadaan burung yang satu ini semakin sulit dijumpai, bahkan dibeberapa daerah yang dulunya menjadi habitat Mandar Batu kini sudah tidak pernah dijumpai lagi.

2. Ketikusan (Porzana cinerea)
Salah satu jenis burung rawa atau burung air yang berukuran relatif kecil. Beberapa tahun silam sangat mudah dijumpai dipersawahan, dan rawa-rawa di perkampungan. Kini keberadaan burung yang satu ini juga sudah mulai jarang ditemui. Bersama burung rawa atau burung air lain, mereka kerap jadi sasaran tembak atau perangkap pemburu.
nama ilmiah burung ketikusan
Ketikusan (Porzana cinerea)
Foto : Mariadi

3. Belibis (Dendrocygna sp)
Burung air yang sekilas berperawakan mirip bebek ini adalah salah burung yang paling diminati oleh para pemburu. Belibis memiliki suara khas seperti siulan, mencari makan di rawa-rawa atua persawahan dan mampu berenang sangat baik dengan bantuan selaput renang diantara jari-jari kakinya seperti halnya bebek. Populasi Belibis benar-benar mengalami penurunan drastis, permintaan yang tinggi terhadap daging belibis membuat beberapa petani mengupayakan untuk menernakannya. Beberapa burung rawa/burung air lainnya yang kini juga mengalami penurunan populasi yang sangat drastis di Kalimantan khususnya Kalsel antara lain Burak-burak atau Koreo Padi (Amourornis phoenicurus), Tatapian atau ketapaian, Ayaman, Bangau Tong-tong,  dan burung sintar.

Upaya pemerintah terhadap perlindungan satwa khususnya burung rawa tersebut harus mendapat dukungan dari masyarakat. Bagaimanapun IUCN, CITES DAN PP No.7/ 1999 tidak akan efektif untuk mencegak kepunahan spesies tersebut tanpa peran serta aktif masyarakat. Stop eksploitasi berlebihan, jangan rusak habitatnya, dan jangan menangkap, membunuh atau menganggu hewan-hewan tersebut.




Baca SelengkapnyaBurung Rawa Kalimantan Yang Hampir Punah
mjumani, Updated at: Agustus 02, 2013

Minggu, 02 Juni 2013

Seni Ukir Ornamen dalam Rumah Banjar

Ornamen Rumah dalam masyarakat Banjar sebagian besar juga menggunakan jenis keterampilan seni ukir, bahkan "urang' Banjar memiliki jiwa seni yang tidak kalah dengan masyarakat suku lainnya di Indonesia khususnya untuk seni ukir dalam pembuatan berbagai ornamen Rumah Banjar. Namun saat ini beberapa ornamen yang menggunakan beberapa teknik atau jenis ukiran tersebut sudah sulit dijumpai karena beberapa ornamen tersebut telah dimakan usia dan hanya sedikit masyarakat yang membangun rumah dengan menggunakan ornamen tersebut lantaran mahalnya biaya pembuatannya, selain keterbatasan para pengukir atau pengrajin bahan umum ornamen yang berupa kayu ulin yang juga semakin sulit dan mahal turut menjadi alasannya.
ornamen rumah banjar
Salah satu contoh bagian rumah yang menggunakan seni ukir

Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, biasanya menggunakan ornamen yang di bentuk menggunakan seni ukir atau yang dikenal dengan sebutan "tatah". Ada 3 jenis tatah yang biasa di jumpai dalam ornamen-ornamen rumah banjar yaitu Tatah surut (ukiran berupa relief); (2) Tatah babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi); (3) Tatah baluang (ukiran “bakurawang”).
jenis-jenis ukiran rumah banjar
Seni Ukir "tatah baluang" atau "tatah bakurawang" pada ventilasi

Ada banyak tempat atau bagian bangunan dalam Rumah Banjar yang menggunakan seni ukir antara lain :
Pucuk Bubungan, Papilis, Tangga, Palatar (teras), Lawang ( pintu), Lalungkang (jendela/ventilasi), watun,  tataban, Tawing Halat ( dinding pembatas), sampokan balok, dan gantungan Lampu.
Jamang

Rumah Balai Laki adalah salah satu tipe rumah adat Banjar yang memiliki ornamen khas yang berbeda dengan rumah adat Banjar lainnya, seperti rumah adat Bubungan Tinggi, Gajah Baliku, Gajah Manyusu, Palimasan, Palimbangan,  Balai Bini,  Tadah Alas, Cacak Burung/Anjung Surung, meskipun ada juga bagian-bagian rumah yang memiliki seni ukir yang bisa dijumpai pada rumah Banjar pada umumnya seperti yang telah disebutkan diatas.

Baca SelengkapnyaSeni Ukir Ornamen dalam Rumah Banjar
mjumani, Updated at: Juni 02, 2013

Senin, 28 Januari 2013

Nama-Nama Rumah Adat Banjar

Nama-Nama Rumah Adat Banjar, selama ini mungkin kita lebih mengenal bahwa rumat adat di Kalimantan Selatan adalah Rumah Banjar, nah mungkin belum banyak yang tahu kalau ada beberapa nama rumah adat Banjar. Berikut nama-nama rumah adat Banjar dan Fungsinya pada jaman kesultana Banjar.
Miniatur Rumah Adat Banjar Gajah Manyusu 
  1. Bubungan Tinggi
  2. Gajah Baliku
  3. Gajah Manyusu
  4. Palimbangan
  5. Palimasan
  6. Balai Laki
  7. Balai Bini
  8. Cacak Burung
  9. Tadah Alas 
Rumah adat Banjar tersebut saat ini sudah mulai terlupakan, padahal sebagai orang Banjar kita wajib tahu dan melestarikannya. Berikut beberapa rumah adat Banjar dan sedikit latar belakang fungsi dan peruntukannya.

1.  Rumah Adat Bubungan Tinggi
Adalah rumah dengan model atau tipe tertua dan paling utama dalam sejarah rumah adat Banjar. Rumah model seperti ini dizaman dahulu biasanya Istana milik Sultan Banjar.
 
Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi 
 2. Gajah Baliku
Rumah Adat Gajah Baliku biasanya merupakan  tempat tinggal para saudara atau keluarga Sultan.
Nama-nama Rumah Adat Banjar
Rumah Adat Banjar Gajah Baliku
 3. Rumah Adat Gajah Manyusu
Di Jaman Kesultanan Banjar digunakan sebagai tempat tinggal Warit Raja, yaitu para keturunan garis utama/ pertama atau bubuhan para gusti. Jadi dirumah ini hanya dihuni oleh para calon pengganti Sultan jika terjadi sesuatu terhadap Sultan.


Rumah adat Gajah Manyusu

 4. Rumah Adat Banjar Palimbangan
Di jaman Kesultanan Banjar rumah Tipe ini digunakan sebagai hunian para tokoh agama (Islam) dan para Alim Ulamanya



Rumah Adat Banjar Palimbangan
 
5. Rumah Adat Banjar Palimasan
Rumah adat tipe Palimasan di Kesultanan Banjar digunakan sebagai rumah bendaharawan istana/kerajaan yang memelihara emas dan perak Kesultanan.
Rumah Adat Banjar Palimasan


6. Rumah Adat Banjar Balai Laki
Dalam sejarah Banjar dikenal sebagai rumah hunian para Punggawa mantra dan para prajurit pengawal keamanan Kesultanan Banjar.


Rumah Adat Banjar Balai Laki

 7. Rumah Adat Banjar Balai Bini
Rumah adat Banjar Balai Bini dimasa Kesultanan banjar dihuni oleh Para puteri Sultan atau Keluarga Sultan dari pihak Perempuan.



Rumah Adat Banjar Balai Bini
 8. Rumah Adat Banjar Cacak Burung atau Anjung Surung
Merupakan rumah adat banjar yang biasanya di huni oleh petani atau rakyat biasa.
Rumah Adat Banjar Cacak Burung/ Anjung Surung
 9. Tadah Alas
Rumah adat ini diperkirakan hasil modifikasi rumah adat Banjar tipe Balai Bini sebab hanya ada perubahan atap teras depan. Jika pada Balai Bini kedua anjung kiwa dengan konstruksi model pisang sasikat Pada Tadah Alas bertumpu pada atap bangunan utama.


Rumah Adat Banjar Tadah Alas
10. Rumah Adat Banjar Bagun Gudang
Rumah Para Punggawa Kesultanan dan tempat menyimpan Harta Kesultanan



Rumah Adat Banjar Bangun Gudang
Foto dan Referensi Fungsi Rumah adat  diambil dari Blog Dunia Portal dengan pengeditan seperluanya, Terimakasih kepada Dunia Portal.

Bantu berbagai agar Ia tetap lestari dengan mengklik dan share kepada warga Banua Kalimantan Selatan.
Baca SelengkapnyaNama-Nama Rumah Adat Banjar
mjumani, Updated at: Januari 28, 2013

Selasa, 06 November 2012

Lukah | Alat Tangkap Ikan Tradisional

Lukah- Di dalam masyarakat suku Banjar Kalimantan Selatan Indonesia ada banyak alat tradisional yang digunakan untuk menangkap ikan. Alat-alat tersebut umumnya dibuat sendiri atau membeli dari pengrajin yang telah diajarkan secara turun temurun dari orang tua ke anak begitu seterusnya hingga sekarang. Lukah berbahan sederhana, yaitu terbuat dari serutan bambu yang dibentuk seperti jeruji kecil, kemudian jeruji ini dibentuk sedemikian rupa menjadi tube atau bangunan silinder yang berdiameter 20-25 cm dan panjang antara 1,5 hingga 2 meter. Di dalam silender tersebut dipasang  dua bangunan kerucut yang disusun secara seri, juga berbahan jeruji bambu. Tujuannya agar ikan yang sudah masuk tidak dapat keluar lagi melalui pintu masuk tersebut. Jarak antar jeruji bambu bervariasi, tergantung target ikan yang ingin di tangkap, misalnya untuk ikan sepat atau gurami jarak antar jeruji lebih rapat, namun jika untuk ikan gabus (Banjar ; haruan), dan Lele (Banjar ;Pentet) maka jarak antar jeruji dibuat lebih renggang tetapi dengan ukuran jeruji bambu yang sedikit lebih besar.

Lukah Alat Tradisional untuk Menangkap Ikan

Lukah digunakan untuk menangkap ikan dengan cara di tempatkan di parit, selokan, atau saluran air. Biasanya alat tradisional ini digunakan saat musim penghujan diman parit-parit atau selokan akan dipenuhi air. Menangkap Ikan dengan Alat Tradisional Lukah jika ditelusuri lebih dalam mengandung kearifan lokal dimana hanya ikan-ikan berukuran  cukup besar yang tertangkap sedangkan anak-anak ikan tidak, dengan demikian ketersediaan ikan tidak akan menurun secara drastis seperti halnya menangkap ikan dengan tuba, pukat harimau atau arus listrik.
Menmpatkan Lukah untuk menjebak Ikan

Selain Lukah ada banyak Alat tradisional yang digunakan masyarakat Suku Banjar Kalimantan Selatan untuk menangkap ikan. Sebagian mungkin juga digunakan oleh suku lain dengan nama yang sama atau mungkin berbeda. Beberapa di antaranya ialah Rengge, Kabam, Tampirai, sarapang, halawit, tangguk, rempa, tugu, unjun, banjur, dll.
Cara Memasang Lukah
Sayangnya keberadaan alat-alat tradisional penangkap ikan ini kini mulai dilupakan seiring mulai merambahnya cara menangkap ikan dengan putas atau tuba dan setrum (arus listrik). Padahal cara menangkap ikan seperti ini tidak hanya membunuh ikan-ikan besar tetapi juga benih-benih ikan bahkan organisme lain yang menjadi makanan ikan, sehingga dalam kurun waktu tertentu populasi ikan akan menurun secara signifikan yang akhirnya merugikan nelayan itu sendiri.
Baca SelengkapnyaLukah | Alat Tangkap Ikan Tradisional
mjumani, Updated at: November 06, 2012

Jumat, 22 Juli 2011

Kesenian Musik Kuriding


Kalimantan Selatan banyak memiliki keragaman budaya yang unik dan menarik, salah satunya adalah musik tradisional. Sayangnya dari tahun ketahun seniman musik tradisional ini kian sedikit karena sedikitnya peminat yang tertarik untuk melestarikannya. Kebanyakan pemain adalah orang-orang tua yang dulu mendapatkan keahlian dari turun temurun dan bertahan hingga kini. Kemajuan jaman dan teknologi serta perkembangan berbagai musik moderen seakan menghapus kesenian musik tradisional dari ingatan kita sehingga keberadaanya pun seakan terlupakan. Salah satunya adalah kesenian musik tradisional Kalsel yang diberi nama Kuriding.

alat musik kuriding
Alat Musik Kuriding
Kuriding adalah sebuah alat musik khas Kalimantan Selatan. Kuriding dimainkan oleh seniman dari etnis Bakumpai maupun Banjar. Kuriding dibuat dari enau atau kayu mirip ulin yang hanya ada di daerah Muara Teweh, Barito Utara. Cara memainkan Kuriding adalah tangan kiri memegang tali pendek melingkar yang menahan bilah kayu itu agar menempelkan di mulut.Tangan kanan menarik-narik tali panjang yang diikat pada ujung bilah sebelahnya. Terdengar seperti suara angin menderu-deru, diiringi bunyi menghentak-hentak berirama teratur.
Deru angin itu muncul dari tiupan mulut pemain Kuriding, sedangkan bunyi menghentak-hentak dari tarikan tangan kanan…Alat musik Kuriding diketahui melalui lagu Ampat Lima yang salah satu liriknya adalah "ampat si ampat lima ka ai, Kuriding patah,.." tapi jarang ada yang melihat bentuk alat itu apalagi orang memainkannya.
Pemain Kuriding
Pertunjukan kesenian ini pernah di ditampilkan dalam acara pembukaan Kongres Budaya Banjar, sayangnya penampilan pemain Kuriding dari Ngaju Kantor, Marabahan itu hanya sejenak saja. Kesenian musik itu di mainkan oleh Raminah, salah seorang pemain Kuriding yang sudah 15 tahun menjadi pemain Kuriding.

Bagi perempuan yang berusia 45 tahun itu, orang bisa bermain kuriding sudah langka. Apalagi tingkat kesulitan menguasai alat cukup tinggi, “Dulu jumlah kami yang belajar kuriding sekitar 50 orang, tapi terus bermain hanya tiga orang,” kata Raminah sambil memperlihatkan kuriding kepada Urbana.( Explore kalimantan)

Ia mewarisi kuriding dari ayahnya, lalu menceritakan bahan membuat kuriding dari enau, atau kayu mirip ulin yang hanya ada di daerah Muara Teweh, Barito Utara. Sesulit memainkannya, alat kuriding juga sulit dibuat meskipun tampak sederhana. “Kalau salah membuatnya dapat membahayakan pemain, makanya lagu Kuriding patah itu benar adanya. Sebab, kuriding bisa patah ketika dimainkan dan berakibat membahayakan pemainnya,” terangnya. Melihat kenyataan demikian, perempuan dari suku Bakumpai ini khawatir, generasi muda kini susah belajar bermain musik tradisional Kuriding.

Kuriding hanyalah salah satu dari sekian kesenian tradisional Kalsel yang hampir lenyap dari kehidupan masyarakat Kalsel. Jika tetap di biarkan tentunya kesenian musik Kuriding hanya akan tinggal cerita dimasa mendatang.

Refferensi : Explore kalimantan
Editor : mj
Baca SelengkapnyaKesenian Musik Kuriding
mjumani, Updated at: Juli 22, 2011

Sabtu, 02 Januari 2010

Tanggui (caping)

Tanggui Kerajinan Khas Banjar dari Daun Nipah (Nypa fruticans)

Tumbuhan Nipah

Selain kajang masyarakat banjar tentunya sudah mengenal yang namanya tanggui. Tanggui adalah kerajinan anyaman dari daun nipah semacam topi besar bundar atau caping, fungsinya untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Tanggui banyak di beli terutama pada saat musim panen padi, menurut pengrajin tanggui di daerah alalak dan kuin permintaan akan tanggui ini meningkat saat musim panen tiba dan harganyapun naik, namun pada hari-hari biasa pun tanggui tetap banyak pemesan biasanya dari pedagang pasar terapung untuk beraktifitas sehari-hari mengayuh atau naik kelotok (perahu kayu bermesin).

Cara membuat tanggui relatif sederhana, bahan baku daun nipah yang rlatif masih muda di jemur hingga layu, kemudian di bentuk menjadi linkaran setengah bola dengan bingkai di tengahnya di beri selupu (semacam topi, biasanya dari anyaman purun) seukuran kepala. Kemudian setelah selesai tinggal di keringkan dengan cara di jemur.

Proses Pembuatan Tanggui
Pengrajin tanggui dapat menghasilkan 15-20 tanggui perhari, dari satu ikat daun nipah yang di beli sekitar 1000/ikat bisa dapat 3 buah tanggui atau caping. dan rata-rata di jual ke pengumpul 2000 sampai 5000 tergantung ukuran tanggui.

Pemasaran tanggui hampir keseluruh wilayah di kalsel yaitu meliputi, gambut, marabahan, HST, HSU, HSS, Pleihari, Kab. Banjar dan daerah lainnya.

Baca SelengkapnyaTanggui (caping)
mjumani, Updated at: Januari 02, 2010

Sabtu, 04 Juli 2009

Tanaman Khas Kalimantan Selatan

Pampakin

Pampakin, tumbuh dan berkembang secara alamiah di dataran rendah setinggi 50 – 600 mdpl. Kawasan yang cocok adalah di tanah gembur dan banyak mengandung unsur hara dengan kelembaban yang cukup tinggi. Biasanya hidup di antara tanaman buah-buahan atau flora lain yang terdapat di hutan-hutan campuran. Di pasaran, buah ini sudah mulai jarang dijumpai.



Pampakin

Meskipun ada, biasanya dalam jumlah yang tidak begitu banyak. Dilihat dair nilai ekonomis, harganya masih rendah dibandingkan haarga buah durian pada umumnya. Perkembangbiakan tanamna ini melalui biji. Kegunaan tanaman ini kebanyakan hanya dimanfaatkan buah dan batangnya saja. Kayunya yang cukup besar daoat dipakai sebagai bahan bangunan dan perabot rumah tangga. Bisa juga dimanfaatkan sebagai kayu bakar dengan mengambil dahan dan ranting yang telah menjadi kayu. Selain itu, kayu pampakin dapat dibuat menajdi berbagai kerajinan kayu ukir yang berharga mahal, sehingga akan meningkatkan nilai ekonomis tanaman pampakin.

Baca SelengkapnyaTanaman Khas Kalimantan Selatan
mjumani, Updated at: Juli 04, 2009
 

mjumanion