Minggu, 29 Maret 2009

Soneratia sp


Rambai Padi
Ada jenis tumbuhan mangrove yang kadang sulit dibedakan antara bacaurea, brugeria, soneratia dll. Namun jika diamati dengan jelas misalnya pada daunnya maka akan dapat dikenali misalnya tumbuhan Soneratia yang banyak terdapat di tepian sungai di Barito kula berikut. 

Pohon, ketinggian mencapai 15 m, jarang mencapai 20 m. Memiliki akar nafas vertikal seperti kerucut (tinggi hingga 1 m) yang banyak dan sangat kuat. Ujung cabang/ranting terkulai, dan berbentuk segi empat pada saat muda. 

Daun
Gagang/tangkai daun kemerahan, lebar dan sangat pendek. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat memanjang. Ujung: membundar. Ukuran: bervariasi, 5-13 x 2-5 cm. 
Bunga
Pucuk bunga bulat telur. Ketika mekar penuh, tabung kelopak bunga berbentuk mangkok, biasanya tanpa urat. Letak: di ujung. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: merah, ukuran 17-35 x 1,5-3,5 mm, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam putih kekuningan hingga kehijauan. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya merah, mudah rontok. Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Ukuran lebih besar dari S.alba, bijinya lebih banyak (800-1200). Ukuran: buah: diameter 6-8 cm. 
Ekologi 
Tumbuh di bagian yang kurang asin di hutan mangrove, pada tanah lumpur yang dalam, seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. Juga tumbuh di sepanjang sungai, mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa, serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar. Tidak toleran terhadap naungan. Ketika bunga berkembang penuh (setelah jam 20.00 malam), bunga berisi banyak nektar. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Biji mengapung. Selama hujan lebat, kecenderungan pertumbuhan daun akan berubah dari horizontal menjadi vertikal. 
Penyebaran 
Dari Sri Lanka, seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, hingga Australia tropis, dan Kepulauan Solomon. Buah asam dapat dimakan (dirujak). Kayu dapat digunakan sebagai kayu bakar jika kayu bakar yang lebih baik tidak diperoleh. Setelah direndam dalam air mendidih, akar nafas dapat digunakan untuk mengganti gabus.
Baca SelengkapnyaSoneratia sp
mjumani, Updated at: Maret 29, 2009

Beluntas


Beluntas
BLUNTAS
Nama latin: Pluchea indica L.
Nama daerah: Baluntas; Baruntas; Luntas; Lamutasa

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu, tinggi 1-2. Batang berkayu, bulat tegak, bercabang, batang muda berwarna ungu setelah tua berwarna putih kotor. Daun tunggal, bulat telur, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, berbulu halus, panjang 3-7 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, warna hijau muda sampai hijau. Bunga majemuk berbentuk malai rata, mahkota lepas, warna putih kekuningan. Buah kecil, keras, berwarna coklat
Habitat: Banyak dijumpai sebagai tanaman pagar yang dapat tumbuh baik sampai ketinggian 800 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Daun
Kandungan kimia: Alkaloid; Minyak atsiri
Khasiat: Diaforetik; Analgesik; Stomakik
Nama simplesia: Plucheae indicae Folium


Resep tradisional:
Keputihan:
Daun beluntas muda segar 20 helai; Akar tapak liman 1 pohon; Air secukupnya, Dipipis, Diminum sehari 1 kali di waktu pagi; 1/4 cangkir
Nyeri persendiaan/Nyeri pinggang:
Akar beluntas segar 5 g; Rimpang kencur segar 7 g; Rimpang temu lawak segar 6 g; Rimpang kunyit segar 6 g; Air 120 ml, Dipipis, Diminum sehari 1 kali 100 ml
Malaria:
Daun beluntas segar 30 helai; Daun sirih segar 7 helai; Daun sembung segar 9 helai; Daun asam muda segar 2 genggam; Air 20 ltr , Dibuat infus, Uapkan ke tempat tidur yang digunakan ukub.
Baca SelengkapnyaBeluntas
mjumani, Updated at: Maret 29, 2009

Morfologi dan Kegunaan Alaban


Nama botani : Vitex pubescens Vahl.

Nama lain : Leban, Alaban

Famili : Verbenaceae


Habitat

Tumbuhan Alaban mudah ditemui hidup dalam keadaan liar di kampung, di tepi sungai dan di hutan.

Ciri morfologi

Pokok halban sederhana hingga besar, mencapai 25 m tingginya. Kulit batangnya berwarna kuning kelabu. Kulit batang pokok tua merekah dan berkeping-keping nipis. Kanopi pokok bulat tetapi kadang-kadang bentuknya tidak sekata. Ranting, tangkai daun, jambak bunga dan permukaan bawah daun berbulu halus. Daun jenis majmuk, mengandungi 3-5 anak daun yang besar. Anak daun tanpa tangkai atau sesil. Warnanya hijau pucat. Bunga halban keeil, terdapat pada jambak panikel hujung yang besar. Brakteanya perang kehijauan dan kelopak bunganya biru keunguan. Buah halban hijau, dan apabila masak bertukar menjadi ungu dan kemudiannya hitam.

Kegunaan dan khasiat

Daun halban digunakan untuk mengubati luka dan demam. Bagi mengubati luka, daun diramas di tapak tangan dan disapu pada luka. Untuk mengubati demam, daun ditumbuk dan dituam pada kepala dan badan.
Baca SelengkapnyaMorfologi dan Kegunaan Alaban
mjumani, Updated at: Maret 29, 2009

Jumat, 30 Januari 2009

Nutrisi Tumbuhan

UNSUR-UNSUR KIMIA YANG DIPERLUKAN TUMBUHAN, PERANAN DAN FUNGSINYA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kimia Dasar (Program Akhir Tahun)

OLEH :
AGUSTINA RAHMAH


NUTRIEN  DAN KEPENTINGANNYA KEPADA TANAMAN
Jenis dan fungsi nutrien tanaman
Tanaman memerlukan sumber nutrisi agar bisa tumbuh subur dan mnghasilkan produk yang berkualitas untuk digunakan makhluk hidup lainnya.  Nutrisi tanaman terbagi dalam dua jenis, yaitu makronutrien dan mikronutrien.

MAKRONUTRIEN
     Makronutrien merupakan unsur yang sangat diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang banyak. Yang terbagi lagi dalam unsur utama dan unsur sekunder.
     Elemen makronutrien yang tergolong di dalam unsur  utama ialah Karbon (C), Hidrogen (H) , Oksigen (O) ,Nitrogen (N) , Fosforus(P)  dan Kalium(K).
     Unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen cukup mudah diperoleh tanaman melalui udara dan air. Unsur-unsur nitrogen, fosfordan kalium  biasanya diberikan kepada tanaman melalui pemupukan. Setiap unsur ini mempunyai peranan tersendiri dalam kegiatan hidup suatu tanaman.

 NITROGEN (N)
 Kepentingan
Memberikan warna 'hijau' kepada tumbuhan melalui pembentukan klorofil.
Membantu dalam pembentukan asam amino (protein) dan enzim-enzim di dalam sel-sel tumbuhan.
Pertumbuhan tanaman
Kesan kekurangan
Daun akan menjadi kuning
Daun di bawah akan gugur
Pertumbuhan pokok menjadi lambat
  Nitrogen amat mudah larut di dalam air. Oleh karena itu penyiraman yang berlebihan akan memudahkan unsur ini hilang dengan cepat sebelum mencapai akar tumbuhan atau penyerapan melalui daun. Pemberian pupuk yang mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi akan meyebabkan kesan terbakar pada bagian vital tumbuhan yang tidak akan mengeluarkan hasil  (bunga atau buah).
 FOSFORUS (P)
 Kepentingan
Merangsang pertumbuhan akar
Merangsang pemekaran bunga
Membantu di dalam  menguatkan sistem pertahanan utama.

Kekurangan
Pertumbuhan terhambat
Warna daun  menjadi hijau tua
Akar pokok terhambat dan menjadi kecil
Buah lambat untuk matang dan masak

KALIUM (K)
Kepentingan
Untuk pembungaan dan pembuahan
Sistem pertahanan tanaman
Membantu proses kimia seperti proses pengeluaran karbohidrat, gula, protein dan enzim enzim yang diperlukan oleh pokok untuk hidup dengan subur.
Mengatur kadar air
Kesan kekurangan
Proses sintesis protein terhambat
Daun menguning dan ujung mengekerut dan di tepi daun layu dan mati
Pertumbuhan terhambat

KALSIUM (Ca)
 Kepentingan
Sangat diperlukan untuk pertumbuhan meristem pucuk dan akar.
Berperan di dalam pembentukan dinding sel tumbuhan.
Diperlukan di dalam proses fotosintesis.
mengaktifkan enzim di dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan protein dan asam amino.
Berperanan di dalam pembagian sel dan pertumbuhan tanaman dengan membantu penyebaran gula di jaringan.
Membantu proses mematangkan stem
Meningkatkan daya tahan terhadap penyakit
Mengatur penutupan dan pembukaan lubang stomata
Memperbaiki tekstur buah.
kekurangan
Pertumbuhan terhambat
Bentuk daun muda tidak seimbang dan tidak subur

MAGNESIUM (Mg)
 Kepentingan
Penting di dalam pembentukan klorofil
Komponen penting di dalam protoplasma tanaman
kekurangan
Terjadi klorosis (daun-daun menguning)
Sebagian daun atau keseluruhan daun mati

SULFUR (S)
Kepentingan
Membantu pembagian sel
Mempercepatkan perkembangan buah
Komponen penting di dalam protoplasma
Kesan kekurangan
Daun muda menguning
Pertumbuhan lambat

MIKRONUTRIEN
MANGAN (Mn)
Kepentingan
Mengaktifkan sesetengah enzim tanaman
Kesan kekurangan
Klorosis
Daun bertotol kuning

BORON (B)
Kepentingan
Diperlukan di dalam penguraian karbohidrat
Kesan kekurangan
Pembentukan bunga terhambat
Pertumbuhan pucuk dan akar terhambat

ZINK (Z)
Kepentingan
Mengaktifkan setengah enzim
Menghindari buah  gugur sebelum matang
Merangsang pengeluaran akar
Kesan kekurangan
Pertumbuhan terbantut

KUPRUM (Cu)
Kepentingan
Komponen di dalam struktur enzim tanaman
Memangkin tindak balas pengoksidaan
Kesan kekurangan
Pertumbuhan tidak normal

MOLIBDENUM (Mo)
Kepentingan
Komponen enzim yang terlibat dalam metabolisme nitrogen
Kesan kekurangan
Pertumbuhan terbantut

BESI (Fe)
Kepentingan
Penting di dalam sintesis klorofil
Sebagai pemangkin di dalam tindak balas kimia tanaman
Kesan Kekurangan
Klorosis pada urat daun

Note : dilakukan perubahan dari bahasa asli seperlunya
Kandungan unsur tersebut dapat ditemukan pada pupuk yang sering digunakan untuk tanaman.
1. Berdasarkan asal : Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup yang telah mengalami peruraian (dekomposisi) oleh mikroorganisme pengurai. Contohnya pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk organik memiliki kandungan unsur hara yang lengkap tetapi umumnya dalam kondisi yang tidak tinggi. Sedangkan pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara mencampur berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan hara tertentu yang tinggi. Contohnya : Urea SP 36, KCl , Grand-S 15 , Tanigro, Grand-K Kalimags dan lain-lain.

2. Menurut jenis unsur hara yang dikandungnya : Pupuk Tunggal dan Pupuk Majemuk
Pupuk tunggal mengandung satu jenis unsur hara saja yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Biasanya berupa unsur hara makro primer, walaupun memiliki senyawa pengiring. Contohnya Urea (45% N) SP36 (36% P2O5) dan KCl (60% K2O). Sementara pupuk majemuk mengandung lebih dari satu jenis unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Contohnya Grand-S 15 (15% N, 15% P2O5, 15% K2O), TANIGRO (16% N, 20% P2O5, 0.17% MgO, 0.39% CaO), Kalimags (30% K2O, 10% MgO, 18% S) Grand-K (13% N, 46% K2O, + UH mikro). Penggunaan pupuk majemuk ini lebih praktis karena dengan satu kali aplikasi sudah dapat mensuplai beberapa jenis hara baik makro maupun mikro. Berdasrkan jenis hara yang dikandungnya ini, pupuk juga dapat dibedakan menjadi pupuk makro yang mengandung hara makro seperti Urea, TSP dan KCl, serta pupuk mikro yang mengandung hara mikro.

3. Menurut cara aplikasi : Pupuk Akar dan Pupuk Daun
Pupuk akar merupakan pupuk yang diaplikasikan melalui akar, dapat dalam bentuk butiran maupun kristal, contohnya : Urea, Tanigro, Grand-S 15, Kalimags, Grand-K dan lain-lain. Sementara pupuk daun adalah pupuk yang cara aplikasinya lewat daun melalui cara semprot dan dapat dicampur dengan pestisida, contohnya : Mamigro, Gardena, Fitomic dan lain-lain.

4. Berdasarkan cara melepaskan unsur hara : Fast Release dan Slow Release

Jika pupuk Fast Release ditaburkan ke tanah, dalam waktu singkat unsur hara yang dikandungnya dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Kelemahannya , ialah terlalu cepat habis bukan hanya diserap oleh tanaman, tetapi juga karena menguap dan tercuci oleh air. Contohnya : Urea, ZA dan KCl.

Pupuk Slow Release atau sering juga disebut pupuk lepas terkendali akan melepaskan unsur hara yang dikandungnya sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dengan demikian, manfaat yang dirasakan dari satu kali aplikasi lebih lama bagi tanaman dibandingkan dengan pupuk Fast Release . Contohnya Grand-K Prill, KaliMagS dan Tanigro. Mekanisme ini dapat terjadi karena unsur hara yang dikandungnya dilindungi secara mekanis dan kimiawi. Perlindungan secara mekanis berupa pembungkus bahan pupuk dengan selaput polimer atau selaput yang mirip dengan bahan pembungkus kapsul. Perlindungan secara kimiawi dilakukan dengan cara mencampur bahan pupuk menggunakan bahan kimia yang aman bagi tanah dan tanaman sehingga bahan pepuk tersebut lepas secara terkendali. Biasanya dari segi harga, jenis pupuk ini lebih mahal dibandingkan pupuk lain, namun kualitas merupakan jaminan.
Efektifitas pemupukan dipengaruhi oleh pemilihan jenis pupuk, pemakaian dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan cara penempatan pupuk.

Dalam pemberian pupuk perlu juga diperhatikan mobilitas (mudah tidaknya berpindah) Unsur Hara. Artinya kita harus mengetahui apakah jenis pupuk yang kita berikan termasuk mengandung unsur hara yang mudah berpindah, tercuci atau menguap.

Phosphor (P) hampir tidak bersifat mobil (mudah berpindah). Akibatnya pupuk P tetap berada di tempat semula (tidak jauh dari tempat pemberian pupuk), sehingga harus diberikan lebih banyak pada pupuk dasar dan usahakan dekat dengan area perakaran. Pemberian pupuk P sebaiknya dengan cara pembuatan tugalan atau larikan disamping tanaman, sebab jika dengan cara penebaran (ditaburkan saja) pemanfaatan pupuk P cenderung tidak efektif. Pupuk Kalium dan Nitrogen cenderung mudah bergerak (mobil) dari tempat asal penebarannya. Pola pergerakannya vertikal ke bawah bersama air. Tidak disarankan memberikan pupuk Kalium dan Nitrogen secara sekaligus atau satu kali apliaksi, karena kemungkinan terjadinya penguapan atau pencucian sangat besar.

Segudang Manfaat Buah Mengkudu Baca Di sini
Baca SelengkapnyaNutrisi Tumbuhan
mjumani, Updated at: Januari 30, 2009

BIOKIMIA LIPIDA

LIPIDA

Oleh : Hadi Wagianoor

I. PENDAHULUAN
Salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia adalah lipid. Senyawa yang termasuk dalam lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Sifat kimia dan fungsi biologisnya juga berbeda-beda. Lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi menggunakan alkohol panas, eter atau pelarut lemak yang lain. Jaringan bawah kulit disekitar perut, jaringan lemak sekitar ginjal mengandung banyak lipid terutama lemak kira-kira sebesar 90%, dalam jaringan otak atau dalam telur terdapat lipid kira-kira sebesar 7,5% - 30%.
Lemak yang kita kenal dalam bentuk padat dan minyak yang kita kenal dalam bentuk cair termasuk dalam senyawa yang disebut lipida. Lemak dan minyak dalam istilah kimia adalah senyawa triacylgliserol. Pemecahan atau hidrolisa triacylgliserol akan menghasilkan senyawa gliserol dan asam lemak. Perbedaan lemak dan minyak terletak pada asam lemak penyusun triacylgliserol. Pada lemak, asam lemaknya sebagian besar adalah asam lemak jenuh, sedangkan pada minyak sebagian besar adalah asam lemak tidak jenuh.
Selain lemak dan minyak, yang termasuk dalam lipida adalah sterol, cholesterol, lilin, phosphogliserida, dan sfingolipida. Semua senyawa yang termasuk dalam lipida dicirikan oleh sifatnya yang tidak larut dalam air

II. BAHASAN
A. Pengertian Lipida
Lipida adalah kelompok dari lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak. Sifat fisika yang dimaksud adalah:
1.Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, benzena, atau yang sering disebut “pelarut lemak”.
2.Ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya.
3.Mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup.

B. Fungsi Lipida
Lipida mempunyai beberapa fungsi, diantaranya:
1.Penyusun membran sel.
2.Molekul energi cadangan.
3.Lapisan pelindung pada beberapa sel.
4.Vitamin dan hormon.

C. Penggolongan Lipida
Senyawa lipida dibagi menjadi beberapa golongan. ada beberapa cara penggolongan yang dikenal, yaitu:
1.Bloor membagi lipida kedalam tiga golongan besar, yaitu:
a.Lipida sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol. Contohnya lemak atau gliserin dan lilin.
b.Lipida gabungan, yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan. Contohnya fosfolipid dan serebrosida.
c.Derivat lipida, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid. Contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol.
2.Berdasarkan sifat kimia penting, lipida dibagi dalam dua golongan besar. Yaitu:
a.lipida yang dapat disabunkan, yakni dapat dihidrolisis dengan basa. Contohnya lemak.
b.lipida yang tidak dapat disabunkan. Contohnya steroid.
3.Berdasarkan kemiripan struktur kimianya, dibagi menjadi:
a.Asam lemak
b.Lemak
c.Lilin
d.Fosfolipida
e.Sfingolipida
f.Tarpen
g.Sterioda
h.Lipid kompleks

D. Lipida Berdasarkan Kemiripan Struktur Kimianya
berdasarkan kemiripan struktur kimianya, lipida dibagi menjadi beberapa macam yaitu:
a.asam lemak
Asam lemak adalah asam organik yang terdapat sebagai ester trigliserida atau lemak, Berasal dari hewan atau tumbuhan. Asam lemak ini adalah asam karboksilat yang mempunyai rantai karbon panjang.

b.Lemak
Lemak adalah suatu ester asam lemak dengan gliserol. Gliserol ialah suatu trihidroksi alkohol yang terdiri atas tiga atom karbon. Lemak pada hewan umumnya berupa zat padat pada suhu ruangan. Sedangkan lemak yang berasal dari tumbuhan berupa zat cair.

c.Lilin
Yang dimaksud dengan lilin (wax) disini ialah lemak dengan monohidroksi alkohol yang mempunyai rantai karbon panjang, antara 14 sampai 34 atom karbon. Sebagai contoh alkohol adalah setil alkohol dan mirisialkohol.

Lilin dapat diperoleh dari lebah madu dan dari ikan paus atau lumba-lumba. Pada tumbuhan terdapat pada epidermis daun, batang, dan buah.

d.Fosfolipida
Fosfolipida atau fosfatidat ialah suatu gliserida yang mengandung fosfor dalam bentuk ester asam fosfat. Oleh karenanya fosfolipida ialah suatu fosfogliserida. Senyawa-senyawa dalam golongan fosfogliserida dapat dipandang sebagai derivat asam α fosfatidat. Gugus yang diikat oleh asam fosfatidat antara lain kolin, etanolamina, serin, dan inositol. Dengan demikian senyawa yang termasuk fosfolipid ini ialah fosfatidilkolin, fosfatidiletanolamina, fosfatidilserin, dan fosfatidilinositol.
Fosfolipid pada tumbuhan terdapat dalam kedelai. Pada manusia atau hewan terdapat dalam telur, paru-paru, dan jantung.

e.Sfingolipida

Senyawa yang termasuk golongan ini dapat dipandang sebagai derivat sfingosin atau mempunyai struktur yang mirip, misalnya dihidrosfingosin. Terdapat dalam memberan sel tumbuhan maupun hewan, dan dalam saraf dan otak. Sfingolipida terdiri dari 3 komponen yaitu: 1 molekul sfingosin, 1 molekul asam lemak, dan 1 kepala polar.

f.Terpen
Tarpen ialah senyawa yang molekulnya dapat dianggap terdiri atas beberapa molekul isoprena (2-metilbutadiena) atau mempunyai hubungan struktural dengan isoprena.
CH2

H2C = C – CH = CH2
Isoprena

Yang termasuk tarpen antara lain ialah sitral, pinen, geraniol, kamfer, karoten, vitamin A, fitol, dan skualen. Sitral, pinen, dan geraniol terdapat dalam minyak atsiri (minyak yang mudah menguap) yang berasal dari tumbuhan misalnya minyak mawar. Kamfer dalam alam terdapat dalam pohon camfer (chinnamomum camphora). Karoten terdapat dalam wortel. Vitamin A dapat diperoleh dari minyak ikan paus.
g.Steroid

Ada sejumlah besar senyawa lipid yang mempunyai struktur dasar yang sama dan dapat dianggap sebagai derivat perhidrosiklopentanofenantrena, yang terdiri atas 3 cincin sikloheksana terpadu seperti bentuk fenatrena dan sebuah cincin siklopentana yang bergabung pada ujung cincin sikloheksana tersebut.


Beberapa senyawa penting yang termasuk golongan steroid akan dibahas berikut ini:
a.Kolesterol
Kolesterol adalah steroid yang terdapat pada hampir semua sel hewan dan manusia. Pada tubuh manusia kolesterol terdapat dalam darah, empedu, kelenjar adrenal bagian luar (adrenal cortex) dan jaringan syaraf. Apabila dalam konsentrasi tinggi, kolestrol mengkristal dalam bentuk kristal yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau dan mempunyai titik lebur 150-151 C.

b.Ergosterol
Sterol ini mempunyai struktur inti sama dengan 7 Dehidrokolesterol tetapi berbeda pada rantai sampingnya. Apabila terkena sinar ultra violet juga akan membentuk vitamin D.
CH2 CH2 CH2

CH2 CH-CH = CH –CH – CH CH3

CH2

c.Asam-asam empedu
Cairan empedu dibuat oleh hati dan disimpan dalam kantung empedu yang kemudian dikeluarkan kedalam usus dua belas jari (duodenum) untuk membantu proses pencernaan makanan. Cairan empedu ini mengandung bilirubin yaitu zat warna yang terjadi dari penguraian hemoglobin, asam-asam empedu dalam bentuk garam empedu dan kolesterol. Asam empedu yang terdapat dalam cairan empedu antara lain asam kolat, asam deoksikolat, dan asam litokolat.
OH CH3

CH = CH2 –CH2 –CH3COOH


Asam kolat

E. Tata Nama Lipida
Rantai atom C ― 28 atomC
Terbanyak 2 ― 18 atom C
Penamaan asam lemak didasarkan pada ∑ atrom C yang menyusun rantai asam lemak.
Secara umum, dari alkana ditambah akhiran OAT. Misalnya: C4 → Butanoat, C6 → Hexanoat, dst.
Untuk asam lemak tak jenuh ditambah kata di untuk 2 buah ikatan rangkap 2, tri untuk 3 buah, dst. Misalnya:

CH3 – (CH2)3 – C = C - (CH2)7 - COOH

H H
Namanya : Sis 9. Tetradekanoat

III. PENUTUP
Kesimpulan
1.Lipida adalah kelompok dari lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak.
2.Lipida mempunyai beberapa fungsi, diantaranya:
a.Penyusun membran sel
b.Molekul energi cadangan
c.Lapisan pelindung pada beberapa sel
d.Vitamin dan hormon
3.Berdasarkan kemiripan struktur kimianya, dibagi menjadi:
a.Asam lemak
b.Lemak
c.Lilin
d.Fosfolipida
e.Sfingolipida
f.Tarpen
g.Sterioda
h.Lipid kompleks


DAFTAR PUSTAKA

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI Press: Jakarta

http://kompas.com/kompas-cetak/0309/04/ilpeng/53698.htm
Baca SelengkapnyaBIOKIMIA LIPIDA
mjumani, Updated at: Januari 30, 2009

FISIOLOGI TUMBUHAN

FISIOLOGI TUMBUHAN

Pengamatan Pertumbuhan dan Perkembangan
Tanaman Kacang Hijau


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu cabang ilmu bilogi adalah fisologi yang terbagi menjadi fisologi hewan dan fisiologi tumbuhan. Fisiologi tumbuhan sendiri adalah cabang disiplin ilmu biologi yang mempelajari tentang aktivitas hidup yang dilakukan oleh tumbuhan (sel, jaringan, organ, sistem organ) dan tentang apa yang terjadi pada tumbuhan tersebut dalam pemeliharaan, pengaturan dan pelestarian kehidupannya juga mempelajari tentang respon tumbuhan terhadap perubahan lingkungan serta pertumbuhan dan perkembangannya akibat adanya respon tersebut. Dengan kata lain fisiologi mempelajari proses hidup yang terjadi pada mahluk hidup dalam kaitannya dengan fisika, kimia, maupun matematika.
Ilmu fisilogi penting peranannya dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi mereka yang bergelut di dunia tanaman. Dengan mempelajari fisiologi tanaman, maka permasalahan tentang pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri dapat diatasi. Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan dalam bentuk ukuran dengan menghilangkan konsep yang menyangkut perubahan kualitas sedangkan perkembangan adalah suatu proses pertumbuhan teratur dan berkembang menuju suatu keadaan yang lebih tinggi, teratur dan kompleks
Sebagai contoh adalah tanman kacang hijau, tanaman ini adalah tanaman pangan yang penting namun dalam penanamannya sering mendapat kendala baik dari tumbuhan itu sendiri maupun dari faktor lingkungannya.
Untuk mengetahui permasalahan fisologi apa saja yang biasa ditemui dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus) maka dipilihlah tanaman tersebut dalam kegiatan praktek ini.



1.2 Perumusan Masalah

Masalah yang dirumuskan dalam kegiatan praktek ini adalah bagaimana pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus).

1.3 Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus) .

1.4 Manfaat Kegiatan
Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi sekaligus aplikasi atau penerapan dari teori ilmu yang didapat dalam perkuliahan Fisiologi Tumbuhan Program Studi Pendidikan Biologi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kacang hijau (Phaseolus radiatus) potensial untuk dikembangkan sebagai sumber protein nabati dan mempunyai harga cukup tinggi dibandingkan kacang-kacangan yang lain. Tanaman kacang hijau biasanya diusahakan selama musim kering dengan hasil beragam, 0,3–0,9 t/ha. Penyebab ragam hasil ini antara lain adalahserangan hama . Salah satu hama penting pada tanaman kacang hijau di musim kemarau adalah thrips (Megalothrip usitatus M.). Kehilangan hasil dapat mencapai 80%, bahkan puso apabila tidak ada tindakan pengendalian. Seranga hama ini menyebabkan daun menjadi keriting, tanaman kerdil, pembentukan terhambat. Gejala serangannya sering disamakan dengan penyakit yangdisebabkan virus. Daerah penyebaran hama ini di Indonesia terutama Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi. Pengendalian thrips secara khusus belum banyak dilakukan, karena petani umumnya belum mengenal hama ini. Pengendalian terpadu hama ini perlu diterapkan dengan mengikutsertakan petani secara aktif. Pengendalian terpadu ditujukan untuk menekan populasi thrips melalui pengaturan waktu tanam, penanaman varietas tahan, dan penggunaan insektisida



BAB III
METODE KEGIATAN

3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan
Kegiatan praktek dilakukan bertempat di rumah praktikan yang beralamat di Jl. Transkalimantan RT 1 NO 1 Kec. Alalak Kab. Batola.
Lama kegiatan praktek sekitar 80 hari yang di mulai hari minggu tanggal 23 September 2007 sampai 9 Desember 2007 dengan 12 kali pengamatan.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan sebagai berikut:
1.Pot palastik, yang diisi dengan media tanam
2.Penggaris untuk mengukur tinggi tanaman selama pengamatan
3.Alat tulis untuk mencatat data hasil pengamatan
4.Bilah kayu panjang 30 cm, sebagai penyangga dan pelindung tanaman

Bahan yang digunakan sebagai berikut:
1.Bibit/ biji Kacang hijau (Phaseolus radiatus)
2.Tanah sebagai media tempat tumbuh tanaman.
3.Ampas teh sebagai campuran tanah dalam pembuatan media
4.Air sebagai pengganti air yang biasa di peroleh akar dari dalam tanah

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja kegiatan praktek adalah sebagai berikut:
a. Pengecambahan
Proses pengecambahan di awali dengan memilih bibit yang bernas yaitu yang bagus, kondisinya baik, berisi dan jika di rendam maka biji tenggelam. Setelah dipilih, biji di rendam dengan air dan di biarkan selama kurang lebih 24 jam. Perendaman akan menghasilkan biji yang telah berkecambah yang kemudian akan di tanam kedalam media tanam.


b. Penanaman
Sebelum penanaman, media tanam sudah harus disiapkan sebelumnya. Dalam hal ini media tanam yang digunakan adalah tanah dengan komposisi 2/3 tanah biasa dan 1/3 ampas teh yang telah dibiarkan beberapa hari. Media ini di tempatkan didalam pot plastik dengan diameter atas 30 cm. Media ini diisi dengan 3 biji kacang hijau yang telah berkecambah.
c. Pemeliharaan
Proses pemeliharaan meliputi penyiraman, penggemburan kembali dan kontrol terhadap gangguan penyakit.
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan pagi dan sore. Penyiraman pagi dilakukan pada kurang lebih pukul 06.30 dan sore sekitar pukul 06.00.

2. Penggemburan kembali
Kegiatan penggemburan kembali bertujuan agar tekstur media tanam tetap terjaga kelonggarannya sehingga proses penyerapan air dan aerasi berjalan optimal, kegiatan ini hanya dilakukan saat media tampak memadat. Caranya dapat dilakukan dengan mencongkel-congekl media hingga media tampak gembur.

3. Kontrol terhadap gangguan dan penyakit
Kegiatan ini bertujuan untuk mengantisipasi dan pengambilan langkah jika terjadi gangguan terhadap tanaman, Dimana dalam kegiatan kali ini dilakukan pada saat tanaman menunjukan gejala sakit yaitu berupa bercak-bercak putih pada daun yang makin lama makin menyebar, tindakan yang diambil adalah memotong tangkai daun yang terinfeksi dan memusnahkannya.

d. Pengamatan
Pengamatan dalam kegiatan praktek ini dilakukan sebanyak 12 kali dengan mengambil waktu sebagian besar pengamatan pada hari minggu. Pengamatan ini bertujuan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta keadaan tanaman secara keseluruhan.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

1. Tabel rangkaian kegiatan
Proeses kegiatan di mulai dari proses penyemaian dan penanaman tanaman kacang hijau ( Phaseolus radiatus) hingga waktu penyerahan laporan kegiatan yang di mulai dari tanggal 23 September hingga 9 Desember 2007. Adapun data proses penanaman dan pengamatan tanaman dari tanggal 23 September 9 Desember.


BAB V
ANALISIS DATA

Dalam kegiatan ini banyak hal yang perlu dikaji dalam rangka hal-hal yang mempengaruhi kegiatan ini terutama dalam hal hubungannya terhadap tanaman itu sendiri. Beberapa hal yang sekiranya perlu dikaji tersebut antara lain proses pengecambahan, media tanam, pemeliharaan, dan gangguan dan penyakit.
1. Pengecambahan
Kacang hijau ( Phaseolus radiatus) merupakan tanaman yang mudah berkecambah karena memiliki lapisan kulit biji yang tipis sehingga proes penyerapan air dapat berlangsung dengan mudah. Penyerapan air sangat penting untuk proses pengaktifan enzim dan pertumbuhan biji. Di dalam biji terdapat embrio dan cadangan makanan berupa kotiledon yang diperlukan embrio untuk tumbuh. Embrio tersebut memiliki 3 bagian penting :
a.Tunas embrionik ( calon batang dan daun)
b.Akar embrionik ( calon akar)
c.Kotiledon ( berisi cadangan makanan)
2. Madia tanam
Media tanam yang dipilih adalah campuran 2/3 tanah gambut yang telah diolah dan 1/3 ampas teh. Seperti kita ketahui tanaman dari suku kacang-kacangan sangat baik ditanam sebagai penahulu tanaman lain karena tanaman kacang-kacangan mampu mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan bakteri pengikat nitrogen sehingga media tanam untuk tanaman kacang tetap bagus untuk di gunakan sebagai media tanaman lain sesudahnya.
Begitu besarnya peranan N bagi tanaman, maka penyediaannya sangat perlu diperhatikan sekali. Surnber N utama tanah adalah dari bahan organik melalui proses mineralisasi NH4+ dan NO3. Selain itu N dapat juga bersumber dan atmosfir (78 % NV melalui curah hujan (8 -10 % N tanah), penambatan (fiksasi) oleh mikroorganisme tanah baik secara sembiosis dengan tanaman maupun hidup bebas (Sanchez, 1976: Megel dan Kirkby, 1982).

a. Tanah gambut
Tanah gambut merupakan tanah yang memiliki tekstur cukup padat dengan kadar pH dibawah 7 atau bersifat asam.
b. Ampas teh
Tujuan penambahan ampas teh ini diharapkan dapat mengurangi kerapatan tekstur tanah, dan mengurangi kadar keasaman tanah sekaligus dalam rangka pemanfaatan limbah rumah tangga.


3. Pemeliharaan


Pemeliharaan meliputi penyiraman air setiap hari dan penggemburan media dalam rangka memperbaiki tekstur media tanam.
a. Penyiraman
Tanaman mutlak memerlukan air semenjak proses perkecambahan sampai tanaman tersebut mati. Bahkan pada sebagian tumbuhan dalam pemencaran biji pun masih melibatkan air.
Air diperlukan tumbuhan terutama sebagai pelarut unsur-unsur hara. Unsur-unsur hara yang terlarut ini di daun akan di proses menjadi makanan dengan bantuan cahaya matahari. Air juga berfungsi sebagai pelarut dalam proses biokimiawi di dalam sel tumbuhan.
Kebutuhan air umumnya di peroleh akar dari lingkungan yang diserap melalui proses osmosis, namun pada penanaman di dalam pot ketersediaan air terutama air tanah seperti pada tanman yang tumbuh di tanah tidak bisa bertahan lama karena proses penguapan. Sehingga perlu dilakukan penyiraman setiap hari agar kandungan air di dalam media tanam senantiasa dapat mencukupi kebutuhan air tanaman.
b. Penggemburan media tanam
Media tanam memiliki kerapatan tanah tertentu. Penambahan ampas teh dapat membantu mengembalikan tekstur tanah kekeadaan yang baik dimana kerapatannya sedang dengan jumlah pori-pori udara yang cukup sehingga pernapasan akar tidak terganggu. Dengan adanya ampas teh maka banyak serangga-serangga kecil dan dekomposer yang menguraikan ampas teh tersebut dan dengan adanya serangga-serangga ini maka akan banyak terdapat rongga-rongga udara yang terbentuk dari pergerakan serangga-serangga tersebut.
Namun tekstur media ini lama-kelamaan akan merapat dan memadat karena proses penyiraman setiap hari. Sehingga perlu diadakan penggemburan media agar pori-pori media tanam kembali bagus sehingga pertukaran udara dan penyerapan air kembali bagus. Penggemburan ini dapat dilakukan dengan mencongkel-congkel media disekitar tanaman.
4. Gangguan dan penyakit


Pada kegiatan praktek ini dijumpai suatu gejala yang menyerang tanaman yang berumur kurang lebih 20 hari. Gejala tersebut berupa bercak-bercak putih kecoklatan pada daun. Bercak-bercak ini semakin lama semakin meluas dan helaian daun yang diserang akhirnya layu dan mengering. Pada awalnya praktikan tidak mengetahui penyebab dan jenis penyakit ini dan hany mengambil tindakan memotong helaian daun yang tersinfeksi dan memusnahkannya.
Setelah di cocokan dengan literatur dari hasil pengamatan gejala-gejala dan efeknya terhadap tanaman maka dapat di ketahui bahwa penyebab penyakit tersebut adalah oleh serangga yang disebut Thrips (Megalothrip usitatus M.) yaitu sejenis serangga berukuran 0,5–2,0 mm, ramping, berwarna kuning pucat sampai kehitamhitaman. Imagonya bersayap dua pasang yang relatif panjang dan sempit, dengan sedikit atau tanpa pembuluh dan berumbai. Alat mulut thrips bertipe pengisap, makanannya berupa cairan bagian tanaman, terutama daun. Antenanya pendek, 4–9 ruas. Thrips berkembang biak secara kawin maupun tanpa kawin (partenogenesis). Pembiakan secara partenogensis menghasilkan keturunan serangga jantan. Sebagian besar thrips bersifat fitofag atau pemakan tumbuh-tumbuhan dan merusak secara langsung. Kalshoven (1981) melaporkan bahwa seekor betina dapat meletakkan sekitar 15 butir telur yang berkelompok di dalam jaringan epidermal daun, dengan periode inkubasi telur selama 3 hari.
Nimfa dan serangga dewasa mengisap cairan tanaman pada permukaan daun, sehingga permukaan atas daun menjadi berbintik-bintik keputihan dan permukaan bawah daun menjadi nekrotik. Gejalanya jelas bila serangan terjadi pada tanaman muda yang dicirikan daun mengkerut atau keriting, tanaman kerdil, pembentukan bunga terhambat bahkan rontok, sehingga hasil biji kering berkurang. Serangan berat dapat menyebabkan puso.
Selain gangguan dari hama tersebut gangguan lain juga ditemukan adanya serangan ulat yang menggerogoti daun muda.




BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan.
Dari hasil kegiatan praktek yang dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1.Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan dalam bentuk ukuran dengan menghilangkan konsep yang menyangkut perubahan kualitas sedangkan perkembangan adalah suatu proses pertumbuhan teratur dan berkembang menuju suatu keadaan yang lebih tinggi, teratur dan kompleks.
2.Masa dormansi tanaman kacang hijau relatif singkat karena hanya beberapa jam saja.
3.Pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau sangat dipengaruhi oleh faktor fisiologis tumbuhan itu sendiri serta pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu kegiatan fisiologis tanaman tersebut.
4.Faktor lingkungan yang sering mengganggu pertumbuhan tanaman kacang hijau adalah serangan hama Thsips.

B. Saran
Pembudidayaan tanaman kacang hijau sangat penting sebab kacang hijau merupakan salah satu penyedia protein nabati penting bagi masyarakat.
Penmbudidayaan tanaman kacang hijau memerlukan pengetahuan khusus terutama dalam menanggulangi penyebab ganguan-gangguan fisiologis tanman tersebut baik yang berasal dari dalam tubuh tumbuhan itu sendiri maupun dari lingkungannya.




BAB VII
SUMBER RUJUKAN

Dwijoseputro, D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Indiati, S.W. 2002. MLG 716 Galur Kacang Hijau Tahan Terhadap Hama Thrips. Seminar Balitkabi.

Marwoto & K.E. Neering. 1989. Kehilangan hasil dan pengendalian hama dengan insektisida pada tanaman kacang hijau. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Balittan Malang. 20-21 Maret 1989. p.66-69.

Sastrapradja, S.D. dan M.A. Rifai. 1989 Mengenal Sumber Pangan Nabati dan Plasmanuftahnya. Puslitbang Bioteknologi-LIPI. Bogor.
Baca SelengkapnyaFISIOLOGI TUMBUHAN
mjumani, Updated at: Januari 30, 2009

EMBRIOLOGI

MAKALAH
EMBRIOLOGI

OLEH:
MUHAMMAD JUMANI
PENDAHULUAN



Salah satu ciri makhluk hidup adalah bereproduksi ( berkembang biak). Reproduksi bertujuan untuk melestarikan atau mempertahankan keberadaan atau eksistensi suatu sepesies tersebut. Ada dua cara perkembangbiakan secara umum yaitu vegetatif dan generatif. perkembangbiakan secara vegetatif umunya terjadi pada tumbuhan dan hewan tingkat rendah. Sedangkan perkembangbiakan secara generatif umumnya terjadi pada hewan dan tumbuhan tingkat tinggi.
Perkembangbiakan secara generatif melibatkan individu jantan dan individu betina. Individu jantan akan menghasilkan sel kelamin jantan atau sperma, sedangkan individu betina akan menghasilkan sel kelamin betina atau sel telur ( ovum). Sel sperma dan ovum dibentuk di dalam alat kelamin (gonad), pada individu jantan disebut testis tepatnya di tubulus semeniferus sedangkan pada individu betina ovum dibentuk di ovarium.
Pada masa tertentu umumnya hewan akan menampakkan suatu tanda-tanda birahi atau hasrat untuk melakukan perkawinan. Ini menandakan bahwa baik jantan maupun betina telah siap untuk melakukan reproduksi.
Setelah terjadi perkawinan (sperma berhasil masuk kedalam ovum), terbentuklah zigot. Dalam tahapan normal setelah terjadi pembuahan maka akan terbentuk morula, kemudian morula akan tumbuh menjadi blastula (blastocyst).
Blastulasi ( proses pembentukan blastula ) menunjukan perbedaan pada tingkatan takson masing-masing. Sebagai contoh blastulasi pada amphioxus,katak, ayam dan babi memiliki tahap pembentukan alat yang berbeda-beda dari tiap daerah bakalnya sendiri-sendiri.
Pada bangsa aves (burung) epiblast, akan menjadi bakal ectoderm, mesoderm dan notochord. Bakal endoderm berasal dari hypoblast yang sel-selnya tumbuh dan menyebar kebawah, kedaerah rongga blastocoel.
Bakal ectoderm epidermis mengisi daerah yang bakal jadi anterior embrio lapisan epiblast. Bakal ectoderm berupa sabit terletak di posterior lapisan epiblast. Bakal notochord dan prechorda di posterior ectoderm saraf sedang bakal mesoderm di paling posterior lapisan epiblast. Pre-chorda berupa lempeng terletak tepat di bakal jadi poros embrio.
Proses blastulasi akan diiringi oleh suatu proses berikutnya yaitu gastrulasi. Pada tingkat gastrula ini akan terjadi proses dinamisasi daerah-daerah bakal pembentuk alat pada blastula, diatur dan dideretkan sesuai bentuk dan susunan tubuh spesies yang bersangkutan. ( Wildan Yatim, 1982 ; 136-179)

ISI

A. Lapis Benih
Pada proses blatulasi akan dihasilkan 2 lapis benih yaitu epiblast dan hypoblast. Epiblast sebagian besar bakal menjadi ectoderm sedangkan hypoblast akan menjadi bakal endoderm.
Lapisan ini akan menjadi lengkap pada saat gastrulasi, yaitu menjadi 3 lapis benih ectoderm ( lapisan bagian luar), endoderm (lapisan bagian dalam) dan mesoderm ( lapisan bagian tengah).

B. Gerakan Gastrulasi
Dalam gastrulasi sel masih terus membelah dan memperbanyak sel. Selain terjadi perbanyakan sel, di dalam proses gastrulasi juga terjadi berbagai gerakan untuk mengatur dan menyusun deretan sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh dari individu spesies masing-masing.
Dalam hal ini ada dua kelompok gerakan :
a.Epiboli
b.Emboli

1. Epiboli
Epiboli adalah gerakan melingkup yang berlangsung disebelah luar embrio. Kegiatan ini berlangsung pada bakal ectoderm epidermis dan saraf. Gerakan berlangsung berdasarkan poros bakal anterior dan posterior tubuh. Bersamaan dengan terus bergeraknya bakal mesoderm dan endoderm, epiboli menyesuaikan diri sehingga ectoderm terus menyelaputi seluruh embrio.
Gerakan epiboli dapat dilihat pada gambar 1.1 yang menggambarkan proses berbagai pergerakan pada gastrulasi.

2. Emboli
Emboli merupakan gerakan menyusup, gerakan ini berlangsung disebelah dalam embrio yaitu pada daerah-daerah bakal mesoderm, notochord, pre-chorda dan endoderm. Gerakan-gerakan tersebut mengarah ke blastocoel.
Ada 7 macam pergerakan pada emboli yaitu :
Involusi ( Gerakan membelok kedalam)
Konvergensi ( Gerakan menyempit)
Invaginasi ( Gerakan mencekuk dan melipat suatu lapisan)
Evaginasi ( Gerakan menjulur )
Delaminasi ( Gerakan memisahkan diri)
Divergensi ( Gerakan memencar)
Extensi ( Gerakan meluas)

C. Gastrulasi pada Amphioxus
Gerakan epiboli pada Amphioxus berlangsung pada seluruh bakal ectoderm yaitu di sepanjang anterior-posterior tubuh. Proses epiboli ini berlangsung mengiringi proses membesar dan melonjongnya embrio.
Beberapa gerakan yang terjadi antara lain :
Invaginasi
Involusi
Ekstensi
Kovergensi
a.Invaginasi terjadi pada daerah hypoblast yaitu di bagian median daerah yang berbatasan dengan sabit dorsal yaitu kearah blastocoel sampai bertemu dengan epiblast. Hypoblast mengalami perpanjangan menurut poros embrio akibat adanya pertambahan jumlah sel. Daerah terjadinya invaginasi disebut juga blastopore yang memiliki 3 bibir yaitu bibir dorsal, ventral dan lateral.
b. Involusi berlangsung pada bakal notochord dari sabit dorsal yang sesuai dengan gerakan hypoblast kearah anterior, sehingga notochord akan terletak didorso-median tepatnya persis di bawah ectoderm.
c.Ekstensi berlangsung pada seluruh daerah bakal pembentuk alat sehingga keseluruhan embrio memanjang dan membesar.
d.Konvergensi di daerah bakal mesoderm kearah dorso-median blastopore tepatnya di daerah bibir lateral. Pada akhirnya mesoderm akan berada di kedua sisi bakal notochord.yang terletak di bibir dorsal

D. Gastrulasi pada Katak ( Amphibi)
Gerakan epiboli berlangsung pada ectoderm yang bersamaan dengan terjadinya berbagai proses emboli sehingga ectoderm selalu menyelaputi seluruh embrio. Di lain pihak ectoderm saraf meluas pada daerah dorso-median embrio di sepanjang poros anterior-posterior berbentuk prisai yang di sebut keping neural atau keping saraf.
Pada proses gastrulasi pada katak juga melibatkan beberapa gerak yang di mulai dengan berinvaginasinya hypoblast pada celah yang terbentuk pada awal proses ( bibir dorsal blastopore). Invaginasi ini disertai oleh pre-chorda di daerah dosrso-median bibir dorsal yang bergerak kearah anterior bakal embrio. Gerakan ini diikuti oleh bakal notochord yang bergerak keposterior kearah bibir dorsal yang kemudian berinvolusi di daerah dorso-median menyertakan pre-chorda. Sel-sel notochord yang terletak di bibir lateral berkonvergensi secara perlahan menuju bibir dorsal. Notochord akan berada persis di bawah bakal ectoderm saraf di dorsal-median.
Bakal mesoderm yang terletak pada kedua sisi bakal notochord berkonvergensi kebibir dorsal kemudian berinvolusi ke celah antara ectoderm dan endoderm. Di kedua sisi embrio, dan juga kearah ventral.
Pada saat proses epiboli dan emboli, perpusingan gastrulasi sebesar 400 berlangsung di daerah plug yolk berlawanan arah dengan jarum jam, sehingga gumpalan yolk yang banyak yang tadinya berada di posterior embrio menjadi daerah ventral atau daerah bakal perut.

Gerakan-gerakan gastrulasi pada katak ( amphibi) dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2.

Gambar 1.1 Proses pergerakan sel dalam proses gastrulasi pada Katak

Gambar 1.2 Gambar tahapan akhir blatulasi dan pergerakan-pergerakan pada gastrulasi.
E. Gastrulasi pada Aves
Diawali dengan penebalan di daerah bakal median embrio di caudal yang disebut primitive streak (lempeng awal). Lempeng ini terbentuk setelah telur 8 jam eram. Primitive streak terbagi atas beberapa bagian sebagai berikut :
Primitive groove
Primitive fold
Primitive pit
Primitive knot atau Handsen’s node
Primitive streak pertama kali terbentuk di daerah postrerior area pellucida yang tumbuh dari sel-sel epiblast yang bergerak kearah median di posterior kemudian sel-sel dalam primitive streak tersebut memperbanyak diri. Sebagaian besar daerah posterior area pellucida ( bakal pre-chorda, notochord, dan mesoderm) berkonvergensi keprimitive streak kemudian berinvolusi diantara hypoblast dan epiblast.
Daerah Hensen’s node merupakan daerah tempat terjadinya invaginasi bakal pre-chorda dan notochord. Selain itu bagian lain dari primitive streak merupakan gerbang lewatnya sel-sel mesoderm.
Bakal mesoderm yang berada setengah posterior epiblast daerah area pelucida berpindah ke posterior , kemudian berkonvergensi ( mengumpul) dari kedua sisi ke garis median. Sel-sel epiblast bakal mesoderm yang berasal dari primitive streak kemudian bergerak kantara epiblast dan hypoblast. Kemudian sel-sel tersebut bergerak menyebar ke lateral dan anterior di kedua sisi garis median lalu berdivergensi membentuk lapisan mesoderm yang luas. Sementara itu sel-sel ectoderm saraf juga melakukan pergerakan secara konvergensi ke arah median lalu berepiboli semenjak Hensen’s node membentuk keping neural ( neural plate) di sepanjang garis median.
Dengan bergerak terus keanterior maka primitive streak mendekati bakal pre-chorda notochord. Pre-chorda dan notochord membentuik primitive pit dengan melakukan invaginasi, Dari sabit notochord, sel-sel pre-chorda yang diiringi sel-sel notochord berkonvergensi semenjak di primitive pit menuju primitive groove kemudian berinvolusi lalu melakukan extensi ke depan sepanjang garis median diantara endoderm dan ectoderm saraf.
Ketika embrio berumur 18 jam eram primitive streak telah lengkap terbentuk. Area pellucida berubah bentuk dari bentuk bundar ke bentuk lonjong. Pada ectoderm berlangsung proses epiboli sampai melingkup kedaerah yolk. Ectoderm juga memanjang ke arah anterior dan menjadi berbentuk pita yang disebut keping neural.
Proses gastrulasi memerlukan waktu sekitar 22 jam eram. Seluruh daerah pembentuk alat sudah tersusun pada daerah masing-masing. Primitive streak sebanding dengan perkembangan daerah bakal pembentuk alat ketiga lapisan benih, mengalami penyusutan secara perlahan dan bergerak ke caudal embrio. Sisanya akan membentuk bagian ekor ( cauda). Seperti pada gambar 1.3.

Gambar 1.3 Proses gastrulasi pada aves ( burung)

Gambar 1.4 Pembentukan dan berbagai pergerakan proses pembentukan lempeng neural pada gastrualasi Aves

Gambar 1.5 Perkembangan keping neural dan mesoderm pada ayam
F. Gastrulasi pada Babi
Proses gastrulasi berawal dari pembentukan primitive streak yang berasal dari kovergensi epiblast. Sel-sel di epiblast memperbanyak diri dengan cepat sehingga terjadilah penebalan yang kemudian membentuk Hensen’s node. Primitive streak kemudian memanjang dengan terus menumbuhkan sel-sel baru.
Dari anterior Hensen’s node sel-sel ectoderm saraf berkonvergensi ke garis median kemudian berepiboli ke arah anterior membentuk keping neural. Di posterior Hensen’s node melakukan invaginasi sehingga terbentuklah primitive pit.
Sel-sel bakal pre-chorda dan notochord berinvolusi dan berdelaminasi serta berextensi dari primitive pit ke arah anterior sepanjang garis median tepat di bawah keping saraf. Sehingga pre-schorda yang awalnya terletak di posterior akhirnya terletak di anterior notochord.
Pre-chorda merupakan bahan daerah caput ( kepala) embrio yang pertumbuhannya diatur oleh host organizer bagian depan notochord. Bagian belakang notochord disebut trunk organizer yang akan mengatur petumbuhan daerah badan ( truncus).
Hypoblast akan menjadi endoderm seperti halnya pada ayam dan akan bertemu dengan bagian posterior Hensen’s node.Sel-sel bakal mesoderm membentuk semacam sayap dengan berdelaminasi keanterior yaitu di antara hypoblast dan epiblast di sepanjang kedua sisi notochord. Pada sel-sel mesoderm, sebagian berpindah keposterior dan sebagian kearah lateral sehingga terbentuk 2 daerah mesoderm yaitu :
1.Mesoderm embrional
2.mesoderm extra-embrional.
Mesoderm embryonal akan menumbuhkan mesoderm embrio sedangkan mesoderm extra-embrional akan menumbuhkan dan membina selaput embrio, amnion, kantong yolk, allantois, chorion.
Pada manusia jaringan mesoderm extra-embrional. Tumbuh dari tropoblast yang merupakan lapisan kedua dari lapisan tropoblast tersebut. Dengan kata lain tidak terbentuk dari primitive streak sperti pada babi. Jaringan extra-embrionik ini menyelaputi tropoblast sebelah dalam dan kantung-kantung selaput embrio sebelah luar.
Primitive streak dapat pula disamakan dengan blastopore yang tertutup. Sedangkan Hensen’s node dapat pula diibaratkan dengan bibir dorsal blastopore yang menumbuhkan pre-chorda dan notochord. Dan bibir ventral dan lateral yang menumbuhkan endoderm dan mesoderm dapat diibaratkan sebagai badan primitive streak yang ada di belakang Hensen’s node.



DAFTAR PUSTAKA


http://www.biologyreference.com/Co-Dn/Development.html

http://8e.devbio.com/article.php?ch=23&id=242

http://www.usm.maine.edu/bio/courses/bio205/06_development_1.html

http://www-rohan.sdsu.edu/%7Erhmiller/chordates1/Chordates1.htm

Yatim, Wildan. 1982. Reproduksi dan Embryologi. Tarsito : Bandung.
DAFTAR ISTILAH


Anterior : Bagian depan
Chorion : Kantung umum yang menyelaputi kantung-kantung lain bersama embrio.
Emboli : Gerak menyusup
Embrio : Makhluk yang sedang dalam tingkat tumbuh dalam kandungan
Epiboli : Gerak melingkup
Gastrulasi : Pertumbuhan yang mengiringi tingkat blastula
Morula : Berbentuk seperti anggur dan di lindungi oleh selaput yang disebut zona pellucida.
Posterior : Bagian belakang
Placenta : Jaringan atau alat temporer tempat melekatnya embrio
Yolk : Cadangan makanan

Baca SelengkapnyaEMBRIOLOGI
mjumani, Updated at: Januari 30, 2009
 

mjumanion