Sabtu, 06 Desember 2008

Morfologi Binjai


“Binjai” Tanaman Yang Mulai Terlupakan

Kemajuan jaman ternyata tidak selamaya positif, pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi telah mengubah paradikma masyarakat menjadi lebih modern dan cenderung berpola pikir instan. Pemenuhan kebutuhan baik primer, skunder maupun tersier cenderung ke produk modern dan mulai meninggalkan kehidupan tradisonal yang lebih sederhana.
Salah satu imbasnya adalah banyaknya jenis tanaman yang tersingkirkan karena posisinya sudah mulai tergantikan dengan produk pabrik misalnya Binjai.

Binjai (Buchanania obovata) memiliki Kandungan Kira-kira 65% dari keseluruhan buah binjai dapat dimakan. Setiap 100 g bagian yang dapat dimakan mengandung: 86,5 g air, 1 g protein, 0,2 g lemak, 11,9 g karbohidrat (termasuk serat), 0,4 g abu, 0,08 mg tiamina, 0,005 mg ß-karotena, dan 5 8 mg vitamin C. Nilai energinya 200 kJ/100 g. Sari buah yang berwarna putih dari binjai yang masih muda sangat gatal, baik terhadap kulit maupun jika dimakan; pernah digunakan untuk mencederai musuh! Ada pun sari buah kemang tidak pernah melukai kulit. Botani Binjai berperawakan pohon besar, seringkali mempertahankan penampilannya yang menarik, tingginya 30(-45) m, dan batangnya berdiameter 50-80(-120) cm atau lebih. Batangnya berbentuk tugu, tak berakar papan, tajuknya berbentuk kubah dengan percabangan yang rapat; kuiit kayunya berwarna coklat-kelabu, bagian luarnya beralur-alur, mengandung getah yang gatal. Daunnya berbentuk jorong sampai bentuk lanset, mendekati bundar telur sungsang, berukuran (7-)1012(-30) cm x (3-)4--5,5(-10) cm, lembaran sebelah atas berwarna hijau 'medium' dan berkilap, lembaran sebelah bawah lebih pucat warnanya, daun-daun sering bergerombol di ujung ranting, kaku, menjangat, meluncip tumpul atau menumpul; ibu tulang daun tebal, memipih, muncul di lembaran sebelah atas, pangkalnya lambat-laun melanjut; tangkai daun kaku, memipih, panjangnya 1-1,5(-2,5) cm. Malai bunga di ujung ranting, panjangnya 15-25(40) cm, bercabang banyak dengan rakis dan cabang yang kaku, berbunga lebat, bunga berwarna merah jambu pucat; bagian-bagian bunga berbilangan 5, berwarna lila pucat, harum; daun mahkota tinier, panjangnya mencapai 10 mm, tidak terlalu melipat seperti pada sebagian besar bunga mangga lain, hanya sedikit melipat pada bagian atas; benang sari yang fertil hanya seutas, tangkai sari panjangnya 5 mm, pangkalnya berwarna putih, makin ke ujung berwarna lembayung, berisi staminodia sebanyak 4 dan mirip gigi bentuknya; cakramnya sempit, mirip tangkai, panjangnya 1-1,5 mm, berwarna hijau pucat; bakal buahnya berbentuk bulat sadak (obliquely globose), berwarna coklat-kemerahan; tangkai putik nya eksentrik, panjangnya 8 mm, berwarna putih, berubah menjadi ungu setelah bunga mekar.
Buahnya bertipe buah buni yang berbentuk lonjong sampai bulat telur sungsang, pangkalnya berleher, berukuran { 12-15(-20)} cm x {6-7(-12)} cm; kulit buah berwarna kekuningan atau kecoklatan pucat, sangat tipis (1 mm), daging buahnya berwarna keputih-putihan, lembut dan mengandung banyak sari buah, berserat, rasanya asam yang khas, dan setelah matang baunya keras. Varietas 'wani': buahnya berbentuk jorong sampai membulat, berukuran (9-11) cm x (6,5-7) cm, setelah matang berwarna hijua muda berkilap, daging buahnya berwarna putih susu; yang paling unggul hampir tidak berserat dan rasanya manis serta enak sekali; bijinya berbentuk lanset sampai menjorong, berukuran kirakira 7 cm x (3,5-4) cm, tidak memipih, berkulit tipis, endokarpnya tidak mengayu, tersusun atas serat-serat kasar yang teranyam, bersifat monoembrioni (sumber : www.iptek.net.id)

Di kalimantan selatan Binjai terkenal sebagai bahan untuk membuat sambal ( Binjai masam) untuk menyantap nasi bersama ikan sungai dan salah satu buah yang di gemari ( binjai manis). Namun sekarang binjai sudah sulit dicari karena masyarakat sekarang cenderung memilih sambal buatan pabrik selain instan juga mudah di di dapat.
Dengan menurunnya minat masyarakat untuk menggunakan tanaman Binjai maka akan berdampak mengurangi populasi binjai sebab keinginan membudidayakannya menjadi rendah. Bagaimana jadinya keberadaan tanaman ini di masa mendatang jika masyarakat sduah benar-benar melupakan keberadaannya.
Baca SelengkapnyaMorfologi Binjai
mjumani, Updated at: Desember 06, 2008

BIO Pestisida

Bio Pestisida
Tindakan Nyata Menyelamatkan Bumi

Pernyataan untuk meminimalisasi efek “global warming” telah keluar dari berbagai pihak dan berbagai negara tujuannya satu yaitu menjaga bumi tercinta. Namun tidak banyak yang dapat memaknainya, sebagian orang telah begitu akrab di telinganya serta konsumsi sehari-hari bagi indera penglihatannya logo-logo “Save Our World”, “Stop global Warming” dan lain sebagainya tetapi tetap saja sengaja atau tidak aktifitasnya malah menambah berat beban penderitaan bumi ini.

Banyak langkah nyata untuk sedikit meringankan beban bumi dalam menghadapi ulah manusia, contoh kecil ialah tidak membuang sampah baik organik terlebih lagi anorganik sembarangan. Serta meminimalisasi penggunaan bahan bakar fosil, gas freon, penggunaan bahan kimia dan lainnya.
Salah satu contoh nya adalah menggunakan pestisida alami untuk mengendalikan hama tanaman. Pengendalian menggunakan pertisida hayati lebih akrab lingkungan karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai selain itu cukup mudah dibuat oleh petani karena bahan baku umumnya mudah di dapat, dan harga pembuatan yang terjangkau.
Beberapa contoh pestisida nabati yang dapat mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman pisang misalnya:

1.Serei Wangi (Andropogon nardus L).
Dikenal sebagi obat tradisional dan kosmetik. Tanaman ini dapat digunakan sebagai menggantikan pestisida kimia yaitu untuk insektisida, bakterisida, dan nematisida. Senyawa aktif dari tanaman ini berbentuk minyak atsiri yang terdiri dari senyawa sitral, sitronella, geraniol, mirsena, nerol, farnesol, metil heptenol dan dipentena.
Tanaman ini dapat mengendalikan Tribolium sp,; Sitophilus sp.; Callosobruchus sp.; Meloidogyne sp.; dan Pseudomonas sp.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : a). Daun dan batang ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l; b). Kemudian endapkan selama 24 jam kemudian disaring agar didapat larutan yang siap diaplikasikan; c). Aplikasi dilakukan dengan cara disemprotkan atau disiramkan; d). Sedangkan untuk pengendalian hama gudang dilakukan dengan cara membakar daun atau batang hingga didapatkan abu, lalu sebarkan / letakkan didekat sarang atau dijalur hama tersebut mencari makan.

2.Bakung (Crinum asiaticum L)
Biasanya pemanfaatan sebagai bahan obat tardisional depresan sistem syarat pusat. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pengganti pestisida yang berfungsi sebagai bakterisida, dan virisida. Senyawa dari tanaman ini mengandung alkaloid yang terdiri dari likorin, hemantimin, krinin dan krianamin.

Tanaman ini bermanfaat untuk menekan /menghambat pertumbuhan Fusarium oxyporum.
Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : a). Menumbuk daun dan atau umbi lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam. c). Larutan hasil perendaman ini disaring agar didapat larutan yang siap diaplikasikan. d) Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan.

3.Sirih (Piper betle L)
Selain sebagai bahan baku obat tradisional, dapat juga di gunakan sebagai bahan pestisida alternatif karena dapat bersifat sebagai fungisida dan bakterisida. Senyawa yang dikandung oleh tanaman ini antara lain profenil fenol (fenil propana), enzim diastase tanin, gula, amilum/pati, enzim katalase, vitamin A,B, dan C, serta kavarol. Cara kerja zat aktif dari tanaman ini adalah dengan menghambat perkembangan bakteri dan jamur.
Tanaman ini walaupun belum secara efektif dapat mengendalikan Phytophthora sp,; Fusarium oxyporum, Streptococcus viridans dan Staphylococcus aureus.
Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : a). Daun sirih ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam, b). Setelah itu disaring agar didapatkan larutan yang siap diaplikasikan. c). Aplikasi dilakukan dengan cara penyiraman larutan semprot ke sekitar tanaman yang sakit atau dengan mengoleskan larutan pada bagian yang terserang (sakit).

Adapun kelemahan pestisida nabati adalah :
a). Daya tahan yang singkat (sangat mudah berubah/terurai), oleh karena itu volume aplikasi harus direncanakan dengan cermat agar efisien,
b). Konsentrasi larutan yang dihasilkan masih tidak konsisten karena sangat tergantung pada tingkat kesegaran bahan baku.
c). Diperlukan standar pengolahan untuk tiap tanaman dan standar aplikasi penggunaan bagi pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
Baca SelengkapnyaBIO Pestisida
mjumani, Updated at: Desember 06, 2008

Selasa, 02 Desember 2008

Kelakai (Stenochlaena palustris)

Kalakai (Stenochlaena palustris)

tumbuhan kelakai
Kelakai mampu hambat penuaan

Kelakai (Stenochlaena palustris) adalah salah satu tumbuhan yang tergoling jenis paku-pakuan yang banyak terdapat di daerah dataran rendah di sekitar aliran sungai maupu tumbuh liar di hutan rawa.
Tumbuhan ini sudah sangat di kenal oleh masyarakat khususnya masyarakat  pedesaan yang tinggal di daerah rawa dan sering di konsumsi sebagi sayur. Biasanya di masak dengan di tumis atau dimasak dalam bentuk sayur bening.

Kandungan Kelakai, dari hasil penelitian Wongso mendapatkan bahwa kandungan zat bioaktif kalakai di daun adalah flavonoid sebesar 1,750 persen, streroid sebesar 1,650 persen, dan alkaloid sebesar 1,085 persen. Sementara di batang, ternyata kalakai mengandung flavonoid sebesar 3,010 persen, steroid sebesar 2,583 persen dan alkaloid sebesar 3,817 persen.

Tumbuhan Kelakai  mengandung zat bioaktif yang bersifat seperti anti oksidan seperti vitamin C, vitamin A, dan flavonoid. Zat bioaktif tersebut bekerja secara sinergis dengan makanisme antara lain dengan mengikat ion logam, radikal hidroksin dan oksigen singlet sebagai penghambat penuaan.
Baca SelengkapnyaKelakai (Stenochlaena palustris)
mjumani, Updated at: Desember 02, 2008

Minggu, 30 November 2008

Strategi menangkap reptil dengan pancing

Menangkap kadal dengan Teknik Pancing

Bagi mahasiswa biologi pada beberapa mata kuliah hewan di sertai praktikum yang memerlukan bahan yang terkadang sulit di peroleh. Salah satu praktikum mata kuliah zoologi vertebrata misalnya pada topik reptilia memerlukan bahan berupa kadal dan cicak.
Pemenuhan bahan ini dapat dengan cara membeli/memesan atau dapat menangkap sendiri di alam. Menangkap kadal bisa sangat mudah namun bisa sangat sulit jika tidak tahu teknik-tekniknya. Berikut di berikan penjelasan teknik “mengkap kadal dengan teknik pancing” yang merupakan teknik pengembangan khusus dari pengalaman saya.
1. Persiapan


  1. Pada tahap persiapan yang di perlukan adalah 
  2. Benang (nilon) seperlunya 1-2 meter 
  3. Kail (kawat pancing) kuran 8 atau 9 tergantung jenis kadal yang akan di pancing 
  4. Umpan ( bisa belalang, umpan pancing ikan, kue),
  5. kantong plastik atau tempat kadal 
  6. Pancingan ( Sebatang bambu kecil atau jenis perupuk atau ranting ),




2. Cara penangkapan




  1.  Cari tempat yang biasa terdapat kadal 
  2.  Berjalanlah perlahan-lahan, sampai menemukan kadal
  3.  Jika telah ketemu pancing kadal dengan mendekatkan umpat pada pancingan ke sekitar mulutnya, gerak-gerakan seolah-olah serangga yang sedang terbang.
  4. Jika telah di telan angkat dengan agak keras, kemudian lepaskan kail dari mulut kadal 
  5. Cuci kail jika terdapat darah bekas tangkapan sebelumnya karena kadal yang lebih kecil akan 
  6. menghindar jika ada bekas darah tangkapan yang lebih besar.




3. Menjaga tangkapan

Jika ingin tangkapan tetap hidup sebaiknya menyiapkan tali/ karet gelang serta sedotan dan kantong plastik gula. Ketika di dapatkan kadal maka masukan kedalam kantong plastik, kemudian masukan sedotan dan ikat kantong plastik yang telah dimasukan sedotan tadi dengan tali atau karet gelang. Fungsi sedotan agar udara luar masih bisa bertukar dengan udara di dalam.





Baca SelengkapnyaStrategi menangkap reptil dengan pancing
mjumani, Updated at: November 30, 2008

Teknik Menangkap Cicak

Menangkap Cicak Dengan “jupi trap”

Cara menangkap cecak atau cicak - Jika sebelumnya telah di bahas cara menangkap kadal dengan teknik pancing maka kali ini akan di jelaskan cara menangkap cicak dengan teknik “Jupi Trap” yang di kembangkan tahun 2006 oleh saya sendiri hehe .
perangkap cecak
Perangkap untuk menangkap cecak

Seperti halnya kadal, dalam perkuliahan jurusan IPA khususnya biologi cicak juga merupakan salah satu hewan yang biasa di gunakan sebagai objek untuk mewakili golongan reptilia. Jika dibandingkan dengan menangkap kadal, cicak relatif lebih susah jika diinginkan tangkapan hidup dan utuh (ekor tidak putus). Karena biasanya di temukan di dinding-dinding maka sulit menggunakan pancing maka alternatif lain ialah dengan cara kejar-kejaran.
Jupi Trap
Cecak atau cicak sudah mendekati Perangkap

Dengan teknik Jupi Trap menangkap cicak akan lebih mudah dan hemat tenaga selain itu tangkapan akan tetap utuh dan tetap hidup. Teknik ini mungkin akan terdengar lucu atau aneh namun saya telah mengujinya sering kali, jika di lakukan dengan benar maka saya yakin anda jga akan berhasil.

Penasaran apa itu Jupi Trap ?

Berikut penjelasannya !

Teknik “Jupi Trap” ane sendiri nih yang kasih nama dari pada gak ada namanya. adalah teknik yang menggunakan perangkap dari gelas yang berisi sisa ampas seduhan kopi ataupun teh yang telah di beri gula pasir. Atau lebih mudahnya sisa secangkir kopi atau teh manis yang biasa kita minum. Untuk membuat perangkapnya cukup sediakan gelas kaca atau toples yang permukaannya tidak berlekuk dan juga terbuat dari kaca. Kemudian masukan sisa kopi tadi kira-kira setinggi 1-2 cm. Lalu letakan di sudut ruangan yang dindingnya biasnya terdapat cecak, usahakan jauh dari keramaian. Tinggalkan dan periksa 3-5 jam sekali. Jika berhasil maka akan ada cicak yang terperangkap kemudian tinggal di pindahkan ketempat yang di sediakan, trap masih bisa di gunakan jika kopi yang ada didasar gelas tidak kering.

Perlu di perhatikan, jangan terlalu lama meninggalkan trap karena cicak yang terperangkap akan mati karena resapan air kopi akan masuk ketubuh cicak. Untuk menghemat waktu dapat gunakan lebih satu trap.

Jika masih belum berhasil maka coba cek lagi prosedurnya sudah benar atau ada yang kurang, dan cek penempatan trap mungkin terlalu ramai atau tidak ada cicak di sekitar trap. Biasanya cecak yang sering terperangkap adalah jenis cecak yang sering tinggal di dinding-dinding rumah atau sering di sebut "cecak gula" atau Gehyra mutilata.

Oh ya saran buat kamu, jangan gunakan gelas yang masih bagus atau masih di pake yah ntar pas minum kebayang ada cicak kan bahaya hehe.. share and like yah makasih...




Selamat mencoba .....
Baca SelengkapnyaTeknik Menangkap Cicak
mjumani, Updated at: November 30, 2008

Senin, 24 November 2008

Bu Muslimah indonesia

Bu Muslimah-Bu Muslimah Indonesia

Daya pikat film “Laskar Pelangi” masih sangat terasa, di kota maupun di desa-desa film yang mengguggah hati penonton ini masih menjadi pembicaraan yang tiada pernah menjenuhkan. Salah satu daya pikatnya adalah kegigihan sang guru ajar laskar pelangi yaitu bu Muslimah. Di film ini tergambar seorang guru yang benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa.
Beberapa waktu lalu saya bersama tim berkunjung ke salah satu desa di Kalimantan Selatan. Perjalanan itu lah yang mendorong saya untuk menulis artikel ini. Karena kunjungan kami berlangsung kurang lenih 3 hari maka kami sempat mengamati keadaan desa yang kami tersebut, termasuk segi pendidikannya . Nah, disinilah saya teringat akan Film Laskar Pelangi yaitu peran bu Muslimah.
Ternyata bu Muslimah di Film Laskar Pelangi itu tidak hanya ada di film melainkan banyak tersebar di Indonesia termauk di Kalimantan Selatan. Kehidupan seorang guru yang di tempatkan di pedalaman memerlukan tekat dan perjuangan yang besar. Meskipun di desa yang kami kunjungi tidak se terpencil seting film Laskar Pelangi namun tentunya ini sudah menggambarkan bagaimana sulitnya menjadi seorang guru di di pelosok.
Kehidupan siswanya yang sangat jauh dengan siswa-siswa di kota, berangkat hanya dengan sendal bahkan tanpa alas kaki menjadi pemandangan sehari-hari. Tidak sedikit yang berjalan puluhan kilometer setiap harinya untuk merasakan yang namanya bangku pendidikan.
Sebagai calon guru saya sendiri merasakan betapa beratnya menjadi pendidik di kota apalagi di desa terpencil. Mungkin inilah yang dirasakan semua tenaga-tenaga pengajar sehingga mereka berlomba-lomba untuk mencari peluang di tempatkan di daerah yang tidak jauh dari pusat kota.
Saya salut kepada Bu Muslimah-Bu Muslimah Indonesia, semoga perjuangan kalian adalah awal bagi majunya Indonesia dan semoga Indonesia memberikan dukungan yang lebih dari apa yang telah kalian berikan.
Baca SelengkapnyaBu Muslimah indonesia
mjumani, Updated at: November 24, 2008

Sabtu, 11 Oktober 2008

Transportasi

Egoisme di Jalan Raya

Sangat jelas terlihat bahwa jumlah populasi di dunia semakin meningkat termasuk di Indonesia. Tampaknya program pemerintah untuk mengurangi laju pertambahan penduduk belum begitu berhasil. Salah satu indikator meningkatnya populasi manusia adalah meningkatnya lalulintas di jalan-jalan raya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya pengguna jalan raya khususnya kendaraan pribadi, antara lain meningkatnya jumlah penduduk dan mudahnya proses kepemilikan kendaraan pribadi.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk berarti meningkat pula pengguna jalan raya, selain itu dengan semakin mudahnya proses kepemilikam kendaraan pribadi dengan adanya kredit semakin mempercepat meningkatnya pengguna jalan raya.

Padatnya jalan raya memunculkan masalah tersendiri bagi pengendara terutama dalam berlalulintas. Suasana yang semerawut menuntut setiap pengguna jalan raya harus lebih sabar dan berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan dalam berlalulintas.
Sebuah penelitian memberitahukan bahwa emosi seseorang meningkat dua kali lebih besar ketika berada di jalan raya. Dengan demikian jika setiap pengendara tidak bisa mengontrol emosinya di jalan raya maka akan sangat merugikan tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi pengendara lain.

Pengendalian diri di jalan raya juga mutlak di perlukan terutama di jalur-jalur macet, karena jika setiap pengendara mempertahankan sifat egoisnya masing-masing maka hanya akan memperparah kemacetan.

Hal ini sering Saya jumpai, salah satunya di jalan Brigjend. H. Hasan Basri yaitu di daerah jembatan Kayu Tangi yang melintasi sungai Alalak. Kondisi tanjakan jembatan yang buruk menyebabkan sering terjadi kemacetan terlebih ketika ada mobil yang mengalami kerusakan di badan jembatan yang menyebabkan kemacetan ber jam-jam. Sebenarnya kemacetan tidak akan terlalu lama jika pengendara lain terutama motor bisa bersabar dan tidak egois.

Kemacetan bertambah parah karena setiap pengendara mementingkan diri sendiri dengan menutup seluruh badan jalan baik yang dari arah Banjarmasin maupun yang dari arah Marabahan sehingga baik kendaraan yang dari arah Bajarmasin maupun dari arah Marabahan tidak menyisakan jalur kiri untuk dilewati sehingga kemacetan akhirnya sampai berjam-jam sampai polisi mengosongkan jalur kiri jalan untuk dilewati.

Peristiwa ini mungkin juga dapat menjadi perhatian pihak terkait untuk bersama-sama memikirkan jalan keluarnya khususnya untuk daerah jembatan Kayu Tangi ini karena merupakan penghubung antara Kabupaten Batola dengan Banjarmasin serta bagi pengendara yang akan menuju ke Kal-Teng.
Baca SelengkapnyaTransportasi
mjumani, Updated at: Oktober 11, 2008
 

mjumanion